Ilham.Menulis
Sebagian besar isi kepala saya
Monthly Archives: April 2010
#2. Namanya Vetra
Posted by pada April 29, 2010
September 2006
“Honey, its time to go.” Seorang pria berbisik kepada seorang gadis yang sedang sibuk mengepak barang. Gadis itu lalu memandangi pria itu dengan tatapan memelas.
“Daddy, do I really need to go to that place? Why can’t I stay in Boston with Nanny? Or at least let me finish my school in Milan with Mark. Anywhere but that place.” Gadis itu berkata skeptis.
Pria itu tampak sedih, tapi dia telah mengambil keputusan. Ini adalah jalan terbaik baginya dan keluarganya.
“Mommy dan Tetra membutuhkanmu. Lagipula apa salahnya menghabiskan waktu bersama mereka di Indonesia? Daddy yakin kamu pasti bisa menemukan pengalaman baru disana. Dan yang terpenting. Bakatmu aman disana.”
Gadis itu menundukan kepalanya. Dia bilang bakat? Ini kutukan! Aku tak pernah menginginkannya. Dan diapun menutup resleting terluar kopernya.
Ø
Oktober 2006
Sebuah mercedes-benz berhenti tepat diluar gerbang sekolah. Sang sopir segera turun dan membuka pintu penumpang. Seorang gadis turun dari mobil itu, wajahnya muram. Dia lalu berjalan dengan lambat. Sebelum masuk ke gerbang sekolah, dia melihat bangunan itu secara keseluruhan. Sekolah tua, dengan arsitektur zaman belanda, tiga lantai. Dengan cepat dia mengkalkulasi tinggi dan lebar bangunan didepannya, mengukur volumnya, serta jumlah bata yang digunakan untuk menutupi seluruh luas permukaannya, tapi sebelum dia selesai menghitung tekanan yang dapat ditahan oleh bangunan itu, dia tercekat. Idiot.. hentikan, kau harus bisa menahan diri. Diapun menarik nafas lalu menghembuskannya pelan-pelan, dan berjalan sambil menundukan kepala.
Ø
Kepala sekolah SMA Negeri itu sangat senang menyambutnya, beliau mengundang gadis itu masuk ke kantornya, dan mulai membicarakan tentang semua hal yang berkaitan dengan sekolah ini. Diapun dengan bangga menunjukan peta sekolah itu secara keseluruhan dan menjelaskan fungsi ruangannya satu-per-satu. Gadis itu hanya diam, dia tidak memperhatikan apa yang dibicarakan oleh bapak itu, dari tadi perhatiannya tertuju pada lukisan garuda yang terpasang di dinding ruangan. Tahan, tahan.. jangan tergoda..
Setelah lebih dari sepuluh menit, bapak kepala sekolah mempersilahkannya untuk segera mengikuti pelajaran. Dia bahkan menawarkan diri untuk mengantar gadis itu sampai ke depan kelasnya. Tapi gadis itu menolak, dengan dalih dia ingin melihat-lihat dulu. Dia lalu merobek secarik kertas dan menuliskan kelas serta guru yang sedang mengajar di kelas itu. Dia memberikannya pada gadis itu bersama sebuah amplop.
Sesaat sebelum keluar, gadis itu berkata pada kepala sekolah. Ahh.. aku menyerah
“Ehm pak, lukisan garuda itu..” katanya gugup
“eh? Kenapa dengan lukisan saya? Bagus ya?” kepala sekolah langsung merasa bangga, lukisan itu adalah lukisan yang dia beli dengan mahal beberapa tahun lalu dari seorang pelukis terkenal asal kalimantan.
“Bukan, lukisannya terlalu miring ke kanan 8 derajat. Memang tak terlalu terlihat, tapi sedikit mengganggu perspektif orang yang melihatnya.” Gadis itu tersenyum gugup, dan diapun segera pergi dari sana.
Dasar si mulut besar sok tahu! Diapun menyesali ketidak mampuannya untuk menahan diri.
Ø
Gadis itu berhenti di depan kelas 11 IPA-1. Sebelum masuk kelas dia menenangkan dirinya sendiri. Tak apa, everythings gonna be alright. Just pretend to be ordinary.. saya orang biasa, saya orang biasa, saya normal. Dan dengan ragu-ragu dia mengetuk pintu.
Ø
Angga duduk dibangku belakang bersama Rekta, selama pelajaran fisika ini, saat hampir semua murid sibuk memperhatikan dan mencatat pelajaran, dia sibuk menyempurnakan teknik memutar-mutar pensilnya. Kelingkang-jari manis-jari tengah-telunjuk, terus berulang-ulang. Merasa frustasi karena selalu gagal, dia lalu mulai mengganggu Rekta yang sedang asyik berkencan dengan kalkulatornya. Rekta yang kesal kemudian mengambil pensil Angga dan melemparkannya ke samping sambil terkekeh. Dengan sebal Angga keluar diam-diam dari bangkunya dan mencari pensil kesayangannya.
Pada saat itulah terdengar ketukan dipintu.
Ibu Hertin, sang guru Fisika tergalak di SMA itu kemudian membuka pintu dengan bergegas. Dia sangat tidak suka diganggu saat jam pelajaran. Ibu itu sudah siap marah ketika membuka pintu. Tapi dia kemudian diam. Rupanya ada seorang gadis yang menyerahkan surat kepadanya. Ibu itu lalu mengerutkan alisnya, mengangguk satu kali. dan mempersilahkannya masuk. Saat itu Angga masih sibuk mencari pensilnya dibawah meja teman-temannya.
“Anak-anak, minta perhatiannya sebentar..” semua murid yang sedang asyik mecatat berhenti menulis, dan memperhatikan ibu Hertin.
“Ini ada murid pindahan dari luar negeri, mulai hari ini dia akan sekelas dengan kalian. Coba kamu perkenalkan diri. Jangan lama-lama, saya masih harus mengajar!” katanya ketus.
“err.. nama saya Vetra Velosita, panggil aja Vetra. Saya dulu sekolah di Washington, Amerika.” Vetra kemudian diam, dia tidak tahu harus berbicara apa lagi.
“Nama belakang kamu velosita? Dari kata velocity dalam fisika?” ibu itu keheranan
“iya bu. Ayah saya ilmuan.”
“waaw.. kamu pasti pintar, ayo silahkan duduk.” Mood ibu Hertin agak sedikit bagus setelah mendengarnya. Ibu itu sangat menyukai orang-orang pintar.
Angga menemukan pensilnya, diapun segera berdiri, tapi karena terlalu terburu-buru, bagian balakang kepalanya membentur sudut meja..
“Aaaaaaawwwwww!!…” Angga menjerit spontan. Dia mengusap bagian belakang kepalanya. Dia lalu melihat tatapan panik dari Rekta di barisan belakang. Wah ternyata pensilnya kelempar jauh juga.. saat akan kembali duduk, Ibu Hertin berteriak.
“ANGGA!! SEDANG APA KAMU DIBAWAH MEJA!!” moodnya langsung rusak oleh kelakuan Angga, Ibu Hertin sangat tidak menyukai kelakuan Angga yang agak serampangan.
“A..anu bu, pensil saya jatuh!” katanya sambil menunjukan pensilnya.
“ALASAN! Kesini kamu, berdiri di pojok!” ibu Hertin berteriak sambil menunjuk ke pojok hukuman, yang paling sering dihuni oleh Angga. Angga tidak bisa berbicara apa-apa, lebih tepatnya dia tidak mau menambah masalahnya. Setidaknya dia bisa menertawakan semua temannya yang kesulitan bergumul dengan rumus Einstein dari pojok itu.
Ø
Vetra duduk di bangku paling depan, sendirian. Dia duduk tepat berhadapan dengan Angga yang sedang berdiri di pojok. Laki-laki konyol pikirnya. Tapi mau tak mau Vetra harus melihat Angga, dan seperti biasa, secara refleks dia menganalisis tingginya, warna bola matanya, pakaian yang dikenakannya, dan hal-hal matematis lainnya. Biasa saja, cukup tampan, tapi biasa saja.
Ø
Angga dengan canggung berdiri di pojok, dia berhadapan dengan gadis itu. Siapa tadi namanya? Peta? Atau Fera? Gadis itu tidak terlalu tinggi, walaupun kulitnya putih seperti orang luar negeri, dan mukanya sedikit indo, perawakannya adalah perawakan orang indonesia pada umumnya. Menurut Angga dia cukup cantik, dengan rambutnya yang lurus dan diikat poni kuda, dan menampakan telinganya yang beranting. Hmm… 85, Karin masih lebih cantik. Kakinya mulai pegal, Angga menyumpahi kelakuan kurang ajar Rekta, yang sekarang sedang setengah mati menahan tawa. I shall revenge. Angga mengutip adegan film aksi yang kemarin dia tonton. Tapi kemudian dia menyadari bahwa ini adalah hukuman yang paling indah yang pernah dia terima selama ini.
Ø
#1. Pemuda Anti Hujan
Posted by pada April 29, 2010
Oktober 2006
“Gyaaaaaaa!!!!” Angga berteriak dengan suara aneh, dia lalu mendobrak keluar dari kamar mandi.
“Kenapa Ga??” ibunya yang sedang menggoreng telur tergesa-gesa menghampirinya, ia bahkan masih tak sempat menyimpan spatulanya.
“Toloooong mam! Itu, itu!” Angga yang ketakutan mengapit lengan ibunya sambil menunjuk ke arah kloset di kamar mandi. Ibunya lalu melihat ke arah kloset. Ah, rupanya ada seekor kecoa yang sedang dengan santainya berjalan-jalan di kloset. ibunya lalu menghela nafas.
“duuh, kamu bikin ribut aja! Mami kira ada apa, Cuma kecoa ini, diinjek juga mati!” ibunya lalu melepaskan lengannya dari apitan lengan anaknya, sambil berbalik menuju ke dapur.
“yaahh mam, sini dulu dong.. bunuhin mam! Sumpah mam! Jijik!” Angga kembali mengapit lengan ibunya..
Ibunya kembali menghela nafas. Anak bungsunya ini memang terlalu dimanja.
“Iya.. iya..” ibunya lalu mengampiri kecoa itu, dan memukulnya dengan spatula, 3 kali. Kemudian dengan santainya dia kembali ke dapur untuk kembali meneruskan memasak. Meninggalkan Angga yang terlalu shock untuk berkata-kata.
Ø
Angga telah selesai berpakaian. Dia lalu dengan santai memasukan buku pelajaran kedalam tasnya. Jam di kamarnya menunjukan pukul 06.30 pagi. Masih cukup buat sarapan pikirnya. Tak beberapa lama Angga keluar dari kamarnya di lantai dua. Dia pun bergegas turun dan langsung menuju meja makan. Disana ibunya tengah menyiapkan sarapan.
“Makan dulu Ga..” ibunya berkata sambil menaruh sepotong telur dadar ke piring Angga. Tanpa banyak berkata Angga mengambil nasi dengan porsi kuli bangunan sambil mencomot dua tempe goreng. Angga makan dengan lahap, namun dia tersedak ketika melihat spatula yang digunakan ibunya untuk menggoreng..
“uhukk..uhukk, Ma! Itu kan yang tadi dipake ngegebuk kecoa? Masa dipake masak telor sih?” Angga tiba-tiba berhenti mengunyah makanannya.
“Ya engga dong sayang, masa mama pake spatula bekas kecoa buat ngegoreng telur? Ada-ada aja.” kata ibunya tenang.
Angga pun lega, setelah minum segelas air untuk melancarkan tenggorokannya, dia kembali makan denan lahap.
Sambil mencuci peralatan masak ibunya berkata.
“Spatulanya engga dipake buat ngegoreng telur, tapi tadi dipake ngegoreng tempe. hehe”
Angga menyemburkan air yang sedang dia minum.
Ø
“Pergi dulu ma!” Angga yang selesai memakai sepatu berpamitan kepada ibunya. Belum jauh dia melangkah, ibunya berteriak dari dalam.
“Angga! Hari ini mama nyuci jangan?”
Angga terdiam sesaat, pandangannya kosong sekitar 2-3 detik.
“Jangan ma, hari ini hujan!” dan dia pun kembali berjalan.
Ø
Itulah Angga, dengan kesehariannya. Dia tinggal di sebuah kawasan perumahan di daerah Bandung tengah. Dia tinggal bersama ibu dan seorang kakak yang sekarang sedang menamatkan kuliah di jurusan sastra sebuah universitas negeri. Kakaknya hanya pulang setiap sabtu dan minggu, hal itu menyebabkan Angga lebih banyak menghabiskan waktu berdua dengan ibunya.
Ayahnya telah meninggal. Setidaknya itulah kabar terakhir yang diterimanya. Ayahnya memutuskan untuk bercerai saat usianya masih tujuh tahun. Semenjak itu hanya selentingan kabar yang pernah dia dengar tentang ayahnya. Lagipula baginya itu tidak penting, yang terpenting adalah dia, ibu dan kakaknya bisa hidup bahagia, walaupun tanpa sosok seorang ayah.
Ø
“WOOYY..!!! bengong aja!” seseorang menepuk pundak Angga dar belakang.
Angga menoleh sebentar, “Eh, elo Ta.” Setelah itu dia kembali meneruskan ritual melamunnya dengan khidmat. Rekta, sahabat karib Angga hanya menggelengkan kepala, kecanduan Angga terhadap melamun memang parah, stadium empat. Tiga menit saja tak mengerjakan sesuatu, Angga pasti langsung melaksanakan ritual tak bermutunya itu. Dengan sigap Rekta duduk di bangku kosong sebelah Angga.
Mereka berdua duduk di sebuah bangku kayu yang terletak depan kelas 11 IPA-1, kelas baru mereka selama empat bulan belakangan ini. Kelas yang setengah mati Angga hindari karena berisi orang-orang super dari sekolah mereka. Akhir semester yang lalu Angga mendapatkan undangan untuk mengikuti seleksi ke kelas unggulan ini. Angga menolak, dia malas sekelas dengan orang-orang bermuka kamus dan penggaris yang kerjanya hanya belajar dan belajar. Hampir semua teman sekelasnya dulu masuk ke kelas IPA-3 atau IPS-1, dan Angga pun berencana untuk masuk kesana. Ibunya sudah membujuknya dengan berbagai macam cara, dari mulai janji akan diberi HP terbaru, sampai uang saku dinaikan. Angga tetap tak mau.
Tapi pada akhirnya Angga tak bisa menolak saat ibunya melakukan adegan dramatis berpura-pura akan menggantung dirinya di tiang jemuran jika Angga tak mau mencoba seleksi masuk ke kelas unggulan itu.
Asal pilih aja deh, yang penting udah nyoba. Pikirnya. Jadi saat test dia sama sekali tidak menyentuh kertas soal, dan hanya mengisi pilihan pada LJK dengan acak. Hasilnya? Peringkat 7 dari atas.
Angga terkejut, dia sama sekali tak menyangka bahwa tingkat keberuntungannya setinggi itu. Tapi Angga tak bisa berbuat apa-apa, mengaku pada kepala sekolah bahwa dia mengisi soal test secara acak hanya akan berakhir pada skorsing dan pemanggilan orangtua, dan Angga sama sekali tak ingin ibunya datang ke sekolah, akan terjadi total chaos.
Untunglah ada Rekta, teman bermain bola Angga sewaktu dia masih kelas satu. Walaupun berbeda kelas, tapi mereka selalu menjadi tandem saat ada pertandingan bola antar sekolah. Rekta yang menjadi korban kekasaran tim lawan, dan Angga menjadi petugas medis yang mengobati kakinya.
Suatu hari Angga menceritakan tentang keberuntungannya saat menjalani test masuk, Rekta hanya bisa terkagum-kagum dan bertepuk tangan, menurutnya tingkat keberuntungan Angga sudah memecahkan Guiness Book of Record, dan berhak mendapatkan penghargaan dari MURI. Sejak saat itu dia terkadang dipanggil Clover Boy oleh Rekta.
“Eh, ntar siang ada murid baru loh di kelas kita.” Rekta berkata sambil memeperhatikan sekelompok anak kelas satu yang sedang berolahraga di lapangan.
“Hah? Cewe apa cowo?” Angga bertanya seperlunya. Dia tak terlalu perduli.
“Cewe, katanya sih pindahan dari luar negeri.”
“SMA swasta maksudnya?”
“Sableng, luar Indonesia..” Rekta tertawa sambil menonjok lengan Angga.
“hahahaha..” Angga membalas tonjokan Rekta. Tiba-tiba seorang gadis berlari-lari kecil menghampiri mereka, sambil melambaikan tangan.
“Karin tuh Ga..” Rekta berkata sambil menunjuk perempuan mungil berambut panjang itu.
“Iya tau, dari jarak dua kilo aja gue udah bisa liat! Antene cinta!” timpal Angga sambil terkekeh, diapun berdiri.
“Gue duluan ya Ta, si Karin minta dianter ke Perpus.” Saat Angga hendak pergi, dia tiba-tiba teringat sesuatu.
“Oh iya Ta, lu jadi mau latihan di lapangan jam 2 nanti?”
Rekta mengangguk.
“Pake lapangan indoor aja, nanti bakal hujan.” Angga berkata sambil menujuk langit. Diapun berlari menuju Karin, pacarnya sejak tiga bulan yang lalu.
Rekta menatap langit yang cerah, dengan sedikit awan. Sama sekali tak ada tanda-tanda akan hujan. Dia kembali menggeleng, kadang dia tak mengerti, darimana datangnya ramalan-ramalan cuaca Angga tentang hujan. Tapi sejauh yang dia tahu, Pemuda anti hujan itu selalu benar.
Ø
#7
Posted by pada April 25, 2010
Aku kembali harus menuliskan semuanya..
semua gumpalan tanda tanya yang selama ini terus mencari asa, mengharap sebaris jawaban demi keterlangsungan hidup sang empunya..
aku kembali harus menorehkan tanda..
dalam buaian aksara yang sama, dalam guratan metafor yang sedikit demi sedikit kurasakan semakin hampa.. semakin kehilangan maknanya..
tanpa kusadari telah tujuh kali aku mengulangnya. repetasi obsesi pribadiku padamu yang tak kunjung menepi, yang kini masih terombang ambing antara nyata dan mimpi. dalam khayal dan hakiki yang semakin lama semakin tak memiliki partisi.. kau mengambang dengan anggun diantara keduanya.
aku yakin kau membaca ini.. mungkin tak selalu, tapi aku tahu kau pernah. tapi ternyata kau tak ayalnya orang lain.. hanya berkata ini indah, tanpa menyadari makna dari tiap kosakatanya, arti dari tiap frasanya.. dan kaupun terlalu angkuh untuk menyadari kemana semua itu bermuara.. padamu.
entah bagaimana kita harus mengurai kekusutan ini.. antara aku yang tak kunjung percaya diri, dan kau yang semakin menutup diri. mungkin kitalah penyebabnya.. kerumitan ini bukan tak bisa diuraikan.. kita yang belum siap untuk mengurainya..
jadi aku hanya akan berdiam diri. lagi. berpura-pura mati. sampai kau siap, sampai kau menyadari bahwa bahkan dia tak mencintaimu seperti aku, bahwa semua yang kubuat ini hanyalah untukmu.
bahwa memang takdir kita untuk bersatu..
180410-dini hari
PROLOG
Posted by pada April 25, 2010
September 2004
Awan cumulonimbus menggantung rendah di atas kota Bandung. Langit gelap, dan angin berhembus kencang. Cuaca yang tidak bersahabat serta udara yang dingin membuat semua orang enggan beranjak dari buaian hangat rumah mereka.
Di sebuah halte di sudut kota Bandung, tampak beberapa orang sedang berkumpul, saling merapatkan diri. Mereka bukan sedang merencanakan konspirasi ataupun menyulut revolusi. Mereka hanyalah sekumpulan orang biasa yang sedang menunggu bus damri. yang entah kenapa tak juga kunjung datang. diantara orang-orang itu juga terdapat beberapa pelajar SMP dan SMA yang sudah sejak tadi gelisah, dan beberapa terlihat memaki-maki. Hari ini hari senin, dan waktu menunjukan pukul 07.24. Mereka sangat terlambat.
Seorang anak laki-laki berjalan dengan santai menuju halte tersebut, sambil menyenandungkan lagu pop yang dia dengar sebelum pergi dari rumahnya. Beberapa anak yang lain berlari melewatinya, dan segera mengambil tempat di halte itu. Wajah mereka terlihat sangat cemas karena takut dihukum karena terlambat. Anak itu hanya tersenyum. Mau lari secepet apa juga tetep aja telat. Jadi buat apa cape-cape lari? Anak itu lalu menaiki undakan halte dan celingukan mencari tempat yang masih kosong. Ah, masih ada yang kosong.. pikirnya. Dia pun duduk disana, dan menunggu dengan sabar sambil melakukan kegiatan favoritnya, melamun.
Tak selang beberapa lama, lamunannya terusik oleh sebuah bisikan halus yang melintas di telinganya. Ia mengangkat wajahnya dan mencari sumber bisikan itu. Rupanya suara tersebut berasal dari seorang gadis yang berdiri tak jauh di sampingnya. Gadis itu tampak sedang komat-kamit. Entah membaca mantra atau sekedar menghapalkan pelajaran. Dia hanya memandanginya sebentar, lalu kembali melamun.
07.40, belum ada tanda-tanda bus akan tiba. Beberapa orang yang tingkat kekesalannya mencapai angka 100 sudah terlebih dulu meninggalkan halte itu. Sebagian naik angkot, dan sebagian lagi terpaksa naik taksi. Anak laki-laki itu memegangi perutnya yang terasa agak kosong. Melamun memang menguras tenaga.. pikirnya asal. Dia melihat sekeliling, halte itu sudah agak sepi, hanya tersisa empat-lima anak seusianya yang dengan pasrah harus menunggu bus tiba. Uang mereka tak cukup jika harus naik-turun angkot, apalagi taksi.
Gadis itu masih disana, dan masih berkomat-kamit. Anak laki-laki itu merasa sedikit penasaran. Diapun berdiri, lalu dengan perlahan mendekati gadis itu. Dengan malu-malu si anak melirik gadis itu. Hmm..lumayan cantik. Gadis itu berkulit putih dan berwajah sedikit indo, matanya yang lentik menerawang kosong, sementara mulutnya yang tipis tak henti-hentinya berkomat-kamit. Gadis itu mengenakan seragam sekolah yang tidak sama dengannya, kemungkinan besar dari SMP swasta. Rambutnya yang panjang diikat ekor kuda, membuat telinganya terlihat jelas. Mata anak itu tertuju pada anting-anting di telinga si gadis. Teddy bear?? Dia lalu terkekeh..
Ø
Gadis itu menghentikan perhitungan di dalam kepalanya. Dia merasa ada seseorang yang memperhatikannya. Diapun melirik ke samping, di sebelah kirinya ada seorang anak laki-laki sebayanya yang tiba-tiba gelagapan dan cepat-cepat berpura-pura melihat langit-langit halte. Dari seragamnya yang dekil gadis itu tau bahwa anak laki-laki itu berasal dari SMP negeri yang satu jurusan bus dengan sekolahnya. Anak laki-laki berambut agak gondrong itu lagi-lagi meliriknya, kali ini sambil terkekeh. si gadis langsung mendelik, memberikan tatapan galak, membuat si anak rambut gondrong kaget dan sedikit menjauhinya. Nah, sekarang dia bisa kembali berhitung.
Ø
Jutek banget! anak gondrong itu lalu mundur bebrapa langkah. Ia kembali mendengarkan gadis teddy bear berkomat kamit. Karena jarak mereka yang lumayan dekat, anak gondrong itu dapat menangkap beberapa kata, walaupun agak samar. Arah angin… ketinggian 700m.. rho kuadrat.. anak gondrong itu menggaruk-garuk kepalanya, bukan karena gatal, tapi karena kebiasaan. Sinting.. pikirnya.
Tak lama kemudian, bus damri yang mereka tunggu tiba. Semua orang di halte itu bersorak gembira, mereka semua tampak seperti korban bencana yang baru saja mendapat bantuan sembako dari salah satu caleg pada saat pemilu, walaupun muka mereka tampak sebal, tapi toh sembakonya diambil juga. Semua orang mulai naik ke bus, tapi si anak masih dengan santai membersihkan seragamnya dari debu saat dia duduk tadi. Males banget desek-desekan.. setelah agak sedikit sepi, diapun mulai berjalan. Saat akan melewati gadis teddy bear, si anak gondrong mendengar bisikan gadis itu, kelembaban 88%.. persentase hari ini hujan, 97%. Si anak gondrong tersentak, hujan? Dia lalu tersenyum dan dengan tiba-tiba berkata pada si gadis.
“hei anting teddy bear! hari ini ga akan hujan..” sahutnya yakin
Anak gondrong itupun lalu naik ke atas bus.
Ø
Gadis teddy bear baru saja keluar dari sekolahnya. Sebelah tangannya melipat payung yang tadi pagi dia beli sebelum sampai di sekolah, ia lalu memasukan payung itu ke tas punggungnya, kemudian ia menengadah ke langit. Matahari mulai terbenam, dan walaupun agak gelap, tapi tidak ada tanda-tanda akan turun hujan. Gadis itu cemberut, anak gondrong itu benar.. pikirnya. Iapun merasa sangat kesal, baru kali ini perhitungannya salah.
Ø
Anak gondrong itu memandang keluar dari jendela kamarnya. Hujan turun dengan sangat deras, membawa aroma tanah yang basah ke kamarnya. Dengan kesal dia menyimpan kembali sepatu bola yang tadi hendak dikenakannya, ia lalu membenamkan dirinya di sofa ruang tamu. Sialan, si teddy bear benar.. pikirnya. Diapun tersenyum, baru kali ini intuisinya salah.
Ø
Ospek oh ospek..
Posted by pada April 25, 2010
wah.. ga kerasa udah mau bulan mei lagi…
berarti sebentar lagi temen2 kelas 3 sma yang mau ngelanjutin sekolah pada ikutan senam pe te en kan? (namanya masih SNMPTN ga sih?? haha)
eniwei, semoga berhasil masuk ke PTN yang kalian pilih ya. :D
ngomongin PTN saya jadi inget waktu diospek dua taun lalu. bukan waktu ospek STAN, tapi waktu saya masih kuliah di UPI, jurusan sastra inggris..
sedikit informasi tambahan. dulu saya anak IPA terkutuk.. karena sama sekali ga minat masuk jurusan IPA di universitas (udah muak, n sama sekali ga ngerti..), saya dengan pedenya ngambil formulir SNMPTN buat IPS.. pas pengambilan formulir itu lagi banyak anak IPS yang ngantri, menyebabkan mereka menatap saya dengan pandangan ingin mencolok lubang hidung saya pake bor.. beberapa orang bahkan mengutuk saya.
“sialan lu ham! ga tau diri banget ngambil jatah anak IPS.. gua kutuk jadi brad pitt tau rasa lu!” dan saya pun bahagia. :D
begitulah.. waktu SNMPTN pilihan pertama saya adalah HI UNPAD, dan pilihan keduanya sastra inggris UPI. jadi buat apa saya susah-susah ngambil formulir IPA? hahaha (apalagi IPC, udah lebih mahal, tesnya dua kali pula.. buang-buang energi. hehehe)
dan begitulah, setelah belajar emoh-emohan selama beberapa minggu sampe lupa ganti celana dalem. secara ajaib saya masuk ke Sastra Inggris..
lalu setelah mengurusi berbagai macam tektek bengek (yang bener tektek bengek apa tetek bengek sih?) administrasi kampus dan pengenalan kampus singkat-setengah-paksa dari kakak senior (sempet digodain juga -_-”). saya resmi jadi mahasiswa! eengg iiinggg eeennggg!!! huraaaaaayyy!!! banzaaaiii!…
krik..krikk..krikk…
uhuk.. uhuk..
lalu tibalah saat yang paling saya takuti.. tau apa? bukan, bukan disunat..
tentu aja OSPEK!! waktu jaman saya tuh lagi heboh-hebohnya penyiksaan mahasiswa.. saya deg-degan banget, gimana kalo itu terjadi pada saya? bagaimana jadinya wajah tampan-tapi-bohong saya kalo sampe dipukuli oleh senior-senior yang iri hanya karena saya terlalu kece? aarrghh tidaaakk.. belom lagi ada isu kalo mahasiswa baru harus dibotakin.. tambah bikin saya mencret dua hari tiga malam..
yaahh, tapi akhirnya saya pergi juga. setelah mengadakan selamatan dan upacara potong ayam, diiringi oleh tangis keluarga dan sanak saudara, serta tegukan anggur terakhir.. saya pergi menghadapi ospek..
karena eh karena kusabab because of rumah saya ada di bandung selatan, sementara kampus saya di bandung utara, dan ospek dimulai jam 6 pagi. saya bela-belain pergi dari rumah jam 5 pagi.. (bayangin aja sendiri, ke setiabudi jam 5 pagi, gimana rasanya?) dengan menahan dingin dan kantuk, juga menahan beser, akhirnya saya sampe juga di kampus yang naudzubilah jauhnya dari rumah saya..
waktu itu sekitar jam 5.30, berhubung jalan masih kosong, jadi cepet sampe… ternyata disana masih sepi, jadi saya jalan-jalan aja celingukan sendiri. (siapa tau nemu makhluk imut nan cantik jelita.. hehe)
ga lama kemudian, saya coba sms salah seorang teman sma yang kebetulan sejurusan, kan lumayan buat temen ngobrol, tapi hapenya ga aktif kalo ga salah..
setelah sekitar sepuluh menit jalan-jalan, ga jelas, saya pergi ke tempat kumpul pertama ospek, di lapangan santiago berdebu..
(fyi. nama lapangan UPI ama STAN sama.. bedanya kalo STAN agak dipelesetin lagi, jadi STANTIAGO BERDEBU.. nampaknya penggemar real madrid semua… kenapa ga ada yang pake plesetan lapangan barcelona, nou camp jadu nude camp misalnya.. kan lebih bagus. hehe)
waktu jalan kesana saya liat beberapa orang yang lari-lari dari belakang, pada botak semua.. saya udah mulai deg-degan.. oh tidak..
ga lama kemudian, ada senior di belakang saya yang teriak-teriak.
“WOOOYY!!! AYOO LARIII-LAARIII!! KALIAN LAMBAAAT BANGEEET SIHHH AYOOO CEPEEETT!!!”
dan secara refleks saya ikut lari.. nyusul orang botak yang tadi.
gak beberapa lama lari, saya dikumpulin sama mahasiswa baru yang lain.. waktu itu udah panik banget, wajreeettsss,, bootaaakk seeemuaaaa!! cuma saya laki-laki disana yang ganteng, eh salah.. yang ga dibotakin..
saya pun disuruh duduk, terus saya bengong.. disana udah mulai heran..
ko pada pake seragam olahraga ya? perasaan dikasih taunya pake baju bebas..
dan mulailah diabsen..
loh kok mahasiswanya dikit banget ya, pada kemana??
tiba-tiba orang dipinggir saya pun nanya..
“a, rambutnya ko belom dipotong..”
“err.., emang harus ya?” jawab saya panik.
“iya.. wajib a, ntar dimarahin loh..”
“ga ah, perasaan anak sastra inggris ga dikasi tau gitu.” jawab saya membela diri..
anak itu kaget. terus cekikikan..
“aa anak sastra? FPBS? (Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra)”
“iyah.” jawab saya bego.
“ini mah kumpul anak FPOK a! (Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan)”
“hah?” (ekspresi saya waktu itu: campuran ekspresi anak pa haji yang dilamar sama ekspresi ketauan pipis dicelana)
degg… saya pun merasa tolol. asstaaaaajiiiiiimmmm!!! beegooo!!
pantesan yang kumpul botak-botak, pake seragam olahraga, terus mukanya mirip barbel semua… gyaaaaahhhh..
saya pun langsung angkat tangan.
“iya kamu yang disana! kenapa?” kata senior..
“PERMISI KE BELAKANG KA!”
“ga boleh!”
“UDAH KEBELET KA, GAWAT KALO GA CEPET-CEPET!!”
“eerrghh, ya udah sana! cepetan!” (seniornya mungkin mikir bahaya juga kalo saya buka celana disana terus ngeluarin anakonda saya, bisa masuk buser..)
saya pun langsung lari dari sana.. ga berapa jauh, saya ketemu ma temen sekolah saya yang sejurusan.
“darimana ham? yang lain udah kumpul dilapangan..”
“NO COMMENT, udah yu ah!”
dan saya pun ikut baris dilapangan dengan anak-anak gondrong lainnya… saya lalu berdoa dengan khusyuk..
“Ya Tuhan, entar kalo nyasar lagi tolong jangan di fakukltas olahraga.. di fakultas manajemen aja.. amin..”

Komentar terbaru