Ilham.Menulis

Sebagian besar isi kepala saya

#1. Pemuda Anti Hujan

Oktober 2006

“Gyaaaaaaa!!!!” Angga berteriak dengan suara aneh, dia lalu mendobrak keluar dari kamar mandi.

“Kenapa Ga??” ibunya yang sedang menggoreng telur tergesa-gesa menghampirinya, ia bahkan masih tak sempat menyimpan spatulanya.

“Toloooong mam! Itu, itu!” Angga yang ketakutan mengapit lengan ibunya sambil menunjuk ke arah kloset di kamar mandi. Ibunya lalu melihat ke arah kloset.  Ah, rupanya ada seekor kecoa yang sedang dengan santainya berjalan-jalan di kloset. ibunya lalu menghela nafas.

“duuh, kamu bikin ribut aja! Mami kira ada apa, Cuma kecoa ini, diinjek juga mati!” ibunya lalu melepaskan lengannya dari apitan lengan anaknya, sambil berbalik menuju ke dapur.

“yaahh mam, sini dulu dong.. bunuhin mam! Sumpah mam! Jijik!” Angga kembali mengapit lengan ibunya..

Ibunya kembali menghela nafas. Anak bungsunya ini memang terlalu dimanja.

“Iya.. iya..” ibunya lalu mengampiri kecoa itu, dan memukulnya dengan spatula, 3 kali. Kemudian dengan santainya dia kembali ke dapur untuk kembali meneruskan memasak. Meninggalkan Angga yang terlalu shock untuk berkata-kata.

Ø

Angga telah selesai berpakaian. Dia lalu dengan santai memasukan buku pelajaran kedalam tasnya. Jam di kamarnya menunjukan pukul 06.30 pagi. Masih cukup buat sarapan pikirnya. Tak beberapa lama Angga keluar dari kamarnya di lantai dua. Dia pun bergegas turun dan langsung menuju meja makan. Disana ibunya tengah menyiapkan sarapan.

“Makan dulu Ga..” ibunya berkata sambil menaruh sepotong telur dadar ke piring Angga. Tanpa banyak berkata Angga mengambil nasi dengan porsi kuli bangunan sambil mencomot dua tempe goreng. Angga makan dengan lahap, namun dia tersedak ketika melihat spatula yang digunakan ibunya untuk menggoreng..

“uhukk..uhukk, Ma! Itu kan yang tadi dipake ngegebuk kecoa? Masa dipake masak telor sih?” Angga tiba-tiba berhenti mengunyah makanannya.

“Ya engga dong sayang, masa mama pake spatula bekas kecoa buat ngegoreng telur? Ada-ada aja.” kata ibunya tenang.

Angga pun lega, setelah minum segelas air untuk melancarkan tenggorokannya,  dia kembali makan denan lahap.

Sambil mencuci peralatan masak ibunya berkata.

“Spatulanya engga dipake buat ngegoreng telur, tapi tadi dipake ngegoreng tempe. hehe”

Angga menyemburkan air yang sedang dia minum.

Ø

“Pergi dulu ma!” Angga yang selesai memakai sepatu berpamitan kepada ibunya. Belum jauh dia melangkah, ibunya berteriak dari dalam.

“Angga! Hari ini mama nyuci jangan?”

Angga terdiam sesaat, pandangannya kosong sekitar 2-3 detik.

“Jangan ma, hari ini hujan!” dan dia pun kembali berjalan.

Ø

Itulah Angga, dengan kesehariannya. Dia tinggal di sebuah kawasan perumahan di daerah Bandung tengah. Dia tinggal bersama ibu dan seorang kakak yang sekarang sedang menamatkan kuliah di jurusan sastra sebuah universitas negeri. Kakaknya hanya pulang setiap sabtu dan minggu, hal itu menyebabkan Angga lebih banyak menghabiskan waktu berdua dengan ibunya.

Ayahnya telah meninggal. Setidaknya itulah kabar terakhir yang diterimanya. Ayahnya memutuskan untuk bercerai saat usianya masih tujuh tahun. Semenjak itu hanya selentingan kabar yang pernah dia dengar tentang ayahnya. Lagipula baginya itu tidak penting, yang terpenting adalah dia, ibu dan kakaknya bisa hidup bahagia, walaupun tanpa sosok seorang ayah.

Ø

“WOOYY..!!! bengong aja!” seseorang menepuk pundak Angga dar belakang.

Angga menoleh sebentar, “Eh, elo Ta.” Setelah itu dia kembali meneruskan ritual melamunnya dengan khidmat. Rekta, sahabat karib Angga hanya menggelengkan kepala, kecanduan Angga terhadap melamun memang parah, stadium empat. Tiga menit saja tak mengerjakan sesuatu, Angga pasti langsung melaksanakan ritual tak bermutunya itu. Dengan sigap Rekta duduk di bangku kosong sebelah Angga.

Mereka berdua duduk di sebuah bangku kayu yang terletak depan kelas 11 IPA-1, kelas baru mereka selama empat bulan belakangan ini. Kelas yang setengah mati Angga hindari karena berisi orang-orang super dari sekolah mereka. Akhir semester yang lalu Angga mendapatkan undangan untuk mengikuti seleksi ke kelas unggulan ini. Angga menolak, dia malas sekelas dengan orang-orang bermuka kamus dan penggaris yang kerjanya hanya belajar dan belajar. Hampir semua teman sekelasnya dulu masuk ke kelas IPA-3 atau IPS-1, dan Angga pun berencana untuk masuk kesana. Ibunya sudah membujuknya dengan berbagai macam cara, dari mulai janji akan diberi HP terbaru, sampai uang saku dinaikan. Angga tetap tak mau.

Tapi pada akhirnya Angga tak bisa menolak saat ibunya melakukan adegan dramatis berpura-pura akan menggantung dirinya di tiang jemuran jika Angga tak mau mencoba seleksi masuk ke kelas unggulan itu.

Asal pilih aja deh, yang penting udah nyoba. Pikirnya. Jadi saat test dia sama sekali tidak menyentuh kertas soal, dan hanya mengisi pilihan pada LJK dengan acak. Hasilnya? Peringkat 7 dari atas.

Angga terkejut, dia sama sekali tak menyangka bahwa tingkat keberuntungannya setinggi itu. Tapi Angga tak bisa berbuat apa-apa, mengaku pada kepala sekolah bahwa dia mengisi soal test secara acak hanya akan berakhir pada skorsing dan pemanggilan orangtua, dan Angga sama sekali tak ingin ibunya datang ke sekolah, akan terjadi total chaos.

Untunglah ada Rekta, teman bermain bola Angga sewaktu dia masih kelas satu. Walaupun berbeda kelas, tapi mereka selalu menjadi tandem saat ada pertandingan bola antar sekolah. Rekta yang menjadi korban kekasaran tim lawan, dan Angga menjadi petugas medis yang mengobati kakinya.

Suatu hari Angga menceritakan tentang keberuntungannya saat menjalani test masuk, Rekta hanya bisa terkagum-kagum dan bertepuk tangan, menurutnya tingkat keberuntungan Angga sudah memecahkan Guiness Book of Record, dan berhak mendapatkan penghargaan dari MURI. Sejak saat itu dia terkadang dipanggil Clover Boy oleh Rekta.

“Eh, ntar siang ada murid baru loh di kelas kita.” Rekta berkata sambil memeperhatikan sekelompok anak kelas satu yang sedang berolahraga di lapangan.

“Hah? Cewe apa cowo?” Angga bertanya seperlunya. Dia tak terlalu perduli.

“Cewe, katanya sih pindahan dari luar negeri.”

“SMA swasta maksudnya?”

“Sableng, luar Indonesia..” Rekta tertawa sambil menonjok lengan Angga.

“hahahaha..” Angga membalas tonjokan Rekta. Tiba-tiba seorang gadis berlari-lari kecil menghampiri mereka, sambil melambaikan tangan.

“Karin tuh Ga..” Rekta berkata sambil menunjuk perempuan mungil berambut panjang itu.

“Iya tau, dari jarak dua kilo aja gue udah bisa liat! Antene cinta!” timpal Angga sambil terkekeh, diapun berdiri.

“Gue duluan ya Ta, si Karin minta dianter ke Perpus.” Saat Angga hendak pergi, dia tiba-tiba teringat sesuatu.

“Oh iya Ta, lu jadi mau latihan di lapangan jam 2 nanti?”

Rekta mengangguk.

“Pake lapangan indoor aja, nanti bakal hujan.” Angga berkata sambil menujuk langit. Diapun berlari menuju Karin, pacarnya sejak tiga bulan yang lalu.

Rekta menatap langit yang cerah, dengan sedikit awan. Sama sekali tak ada tanda-tanda akan hujan. Dia kembali menggeleng, kadang dia tak mengerti, darimana datangnya ramalan-ramalan cuaca Angga tentang hujan. Tapi sejauh yang dia tahu, Pemuda anti hujan itu selalu benar.

Ø

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.548 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: