14 Februari 2008
Angga berjalan tertatih-tatih. Dengan perlahan dia melangkah di sepanjang koridor kelas dalam. Kakinya yang terkilir terasa semakin nyeri setelah mendapatkan bantingan dari juniornya beberapa hari yang lalu. Semenjak itu dia jadi terpaksa absen mengikuti latihan Judo.
Angga melirik ke dalam jendela kelas yang dilewatinya, semua murid tampak lebih bersemangat dari biasanya, mungkinkah hari ini ada yang berulang tahun? Dia lalu mencoba berjalan lebih cepat, agar bisa segera melewati hiruk pikuk itu.
Dia tiba di depan pintu perpustakaan. Angga membuka pintunya sedikit, lalu mengintip ke dalam. Vetra terlihat sedang asyik membaca di salah satu meja di bagian tengah ruangan, seperti biasa gadis itu hanya sendirian di dalam sana. Yah, lagipula siapa juga yang mau masuk ke perpustakaan pagi-pagi begini? Pustakawan sekolah pun tampaknya belum datang.
Angga kemudian bersiul pelan, tidak ada reaksi apa-apa, dia bersiul sekali lagi, dengan agak keras. Vetra akhirnya menyadari siulan itu, dia melihat ke arah Angga.
“Pagiii.” Angga menyapanya, sambil mengangkat tangan.
“Pagii.” Vetra tersenyum kecil.
“Mau bareng ke kelas?”
Vetra menggelengkan kepala. Dia tahu ada sesuatu yang menunggu Angga di lantai dua, dan dia tidak ingin melihatnya.
“Oke, saya duluan ya.”
Dia menutup kembali pintu perpustakaan, kemudian kembali berjalan di sepanjang koridor. Sudut matanya tiba-tiba menangkap sebuah pemandangan di bagian ujung koridor di depannya.
Ah, sekarang dia tau kenapa hari ini semua orang terlihat lebih ribut dari biasanya. Pemandangan di depannya itu menjelaskan semuanya. Dia melihat pasangan muda mudi yang sedang bersandar ke tembok, wajah keduanya tampak cerah dan bersemu merah. sang gadis kemudian dengan malu-malu memberikan sebuah bungkusan kepada sang pemuda. Dia tidak mengenal keduanya, tapi sepertinya mereka anak kelas sebelas.
Cokelat, valentine.. dia ingat sekarang. Rupanya hari ini adalah hari yang mereka sebut hari kasih sayang. Pikirannya langsung melayang, masuk jauh ke dalam memorinya. Kapan terakhir kali dia mendapatkan cokelat valentine ya? Tahun lalu? Bukan.. Ah ya, dua tahun yang lalu.. dari Karin..
Karin.. sudah cukup lama nama itu tidak dia ucapkan. Nama yang jujur saja sudah mulai hilang dari dalam ingatannya. Tapi kejadian hari ini membawa semuanya kembali. Satu kenyataan pahit yang harus dia terima, konsekuensi dari pilihan yang telah dia buat.
Dia teringat kembali di bulan yang sama tahun lalu, saat itu bukan cokelat yang dia terima, tapi sebuah tamparan di pipinya. Saat itu dia sudah sangat mengecewakan Karin, dan gadis itu memutuskan untuk menyudahi hubungan mereka berdua.
Tak terasa sudah setahun penuh sejak saat itu berlalu, Angga mengelus-elus pipinya dengan perlahan. Jika dia memejamkan mata dan membayangkan kembali semua adegan itu, dia masih bisa merasakan rasa sakit di pipinya itu. Dia jadi berpikir, dimana Karin saat ini? apakah dia sudah melupakannya dan mendapatkan penggantinya?
Angga tiba-tiba tersenyum, pikiran konyol. Gadis seperti Karin tentu saja bisa mendapatkan pengganti yang lebih tampan, lebih kaya, lebih atletis, lebih pintar, dan yang jelas bisa memperlakukannya lebih baik daripada dirinya.
Benarkah?
Angga meyakinkan dirinya sendiri. Dia merasa dimanapun Karin berada saat ini, gadis itu pasti sedang menikmati hidupnya, dan telah melupakan dirinya. Angga memejamkan mata, kemudian membayangkan wajah Karin di benaknya. Ada sedikit perasaan yang mengganjal di hatinya, rasa kelu, pedih yang tiba-tiba saja datang dan merangsek masuk ke dalam dirinya.
Angga membuka mata.
Diapun harus terus maju. Tak ada gunanya mengenang secara berlebihan sesuatu yang telah lalu. Satu tahun sepertinya waktu yang cukup lama, sekarang dia harus mulai menata kembali kehidupan asmaranya.
Tapi dengan siapa? Angga menggaruk-garuk kepalanya, dia langsung teringat perkataan Excel beberapa waktu yang lalu. Perlukah dia melakukan sesuatu terhadap hubungan pertemanan mereka? Angga masih tidak yakin, lagipula dia merasa saat ini bukanlah saat yang tepat untuk itu.
Ō
Angga berhasil naik ke lantai dua dengan susah payah. Seluruh persendian di kakinya yang terkilir terasa nyeri, dia tak henti-hentinya mengernyit dan memaki kebijakan sekolah yang menempatkan siswa kelas dua belas di lantai atas.
Angga hanya beberapa langkah dari pintu kelas saat dia melihat seorang gadis berlari-lari kecil dari arah yang berlawanan, gadis itu melambaikan tangan saat melihatnya.
“Pagii..” Angga menyapanya terlebih dahulu.
“Pagiii kaaak.” Tetra membalasnya, dengan tambahan senyum manis.
“Ada apa nih pagi-pagi ke lantai dua?” Angga menyandarkan tubuhnya di dinding, sambil memijat-mijat kakinya dengan sebelah tangan.
“Masih sakit kakinya?”
Angga mengangguk.
“Ke dokter kak, siapa tau parah loh.”
“Woy, jangan ngedoain dong.” Angga tertawa.
“Iiih, bukan ngedoain! Jadinya kan bisa langsung diobatin kalo ke dokter.” Dia ikut tertawa.
“Gak apa-apa Tra, udah ke tukang urut kok. Heh pertanyaan saya belom dijawab.”
“Pertanyaan apa?”
“Lagi apa di lantai dua?” Angga mengulangi.
“Mau ketemu kakak.” Tetra tampak tersipu malu.
“Oya? Ada perlu apa emang?”
Tetra kemudian membuka tasnya, lalu mengeluarkan sebuah bungkusan besar, yang ditutupi oleh kertas kado berwarna pink. Ada sebuah pita emas menempel di salah satu sudutnya.
“Ini.” Wajahnya berangsung-angsur menjadi merah.
Angga terdiam sebentar, otaknya masih memproses semua ini. Apakah Vetra memberikan cokelat ini lewat Tetra? Ataukah Tetra ingin memberikan cokelat ini kepada teman sekelasnya, tapi lewat dirinya? atau mungkin cokelat ini memang diberikan Tetra untuknya?
“Cokelat ini..” Angga tadinya hendak bertanya untuk memastikan, tapi Tetra langsung berbicara lagi.
“Kakak bilang kalian berdua cuman temen, jadi aku pikir gak apa-apa kan kalo aku ngasih cokelat ini ke kakak?” dia berbicara dengan gugup dan terburu-buru.
“…” dia terdiam. Hanya teman.. kata itu langsung menancap di dalam dirinya. Dia hanya diam dan memandangi wajah Tetra.
“Kakak.. gak mau?” Tetra terlihat sedikit murung. Angga yang melihat hal itu dengan cepat mengambil bungkusan cokelat itu dari tangan Tetra.
“Eh, mau kok. Makasih banget ya.” Angga memaksakan diri untuk tersenyum.
Wajah Tetra terlihat kembali bersinar, dia lalu tersenyum.
“Sama-sama.”
Keduanya lalu terdiam, salah tingkah. Tetra terus menatap Angga dengan lekat, seakan menunggunya mengatakan sesuatu, Angga sebaliknya masih bingung bagaimana harus bereaksi.
Tiba-tiba bel masuk berbunyi. Angga menghela nafas, saved by the bell..
“Wah, udah bel. Aku ke kelas dulu ya kak.” Tetra berbalik sambil melambaikan tangannya. Angga mengangguk sambil membalas lambaian tangan Tetra. Dia terus mengawasi Tetra sampai gadis itu menuruni tangga.. dan.. Astaga. Dia berpapasan dengan Vetra di tangga itu, dan mereka berdua tampak bercakap-cakap. Angga dengan segera memasukan cokelat itu ke dalam tas, diapun langsung berjalan masuk ke dalam kelas, dia khawatir Vetra akan bertanya tentang cokelat itu.
Angga dengan segera duduk di bangkunya. Dia kembali menatap bungkusan cokelat yang berada di dalam tasnya. Tetra memberinya cokelat, bukankah itu berarti Tetra menyimpan perasaan pada dirinya? Benarkah? Angga menghela nafas. Apa yang harus dia lakukan?
Ō
Anehnya Vetra tidak mengatakan apapun soal cokelat ataupun Tetra. Padahal Angga sudah menyiapkan berbagai macam jawaban yang mungkin dia lontarkan pada saat Vetra bertanya mengenai hal itu.
Mungkinkah Tetra tidak memberi tahukan soal cokelat itu kepada kakaknya?
Mereka makan bersama sepanjang istirahat siang, kemudian karena hari ini adalah hari Kamis, yang merupakan jadwal rutin mereka berdua belajar bersama, Angga jadi terus bersama Vetra sore itu, mereka belajar bersama di rumahnya. Vetra tetap tidak mengatakan ataupun menyinggung tentang hal tersebut. Dan itu malah membuat Angga semakin merasa horor dan tidak tenang. Dia sama sekali tidak bisa berkonsentrasi dengan materi dan rumus Fisika yang diajarkan oleh Vetra.
“Fokus Ga.” Vetra menatapnya dengan sebal. Angga tiba-tiba tersadar dari lamunannya. Mereka berdua sedang duduk di karpet ruang tamu rumah Angga. Beberapa buku teks terlihat bertebaran di sekitar mereka. Angga melirik ke arah jam di dinding ruangan, saat itu waktu menunjukan pukul 16.15, sudah cukup sore.
“Eh, sori-sori.. tadi kita lagi ngomongin apa?”
Vetra menghela nafas.
“Jadi kamu gak denger apa yang saya omongin dari tadi?
Angga menggeleng dengan sedikit rasa bersalah.
“Mending kita istirahat dulu deh.” Vetra menutup bukun catatanya.
“Setuju.” Angga dengan cepat mengiyakan. Dia kemudian berdiri untuk meregangkan kakinya yang pegal dan ngilu.
Beberapa saat kemudian Teh Ara masuk ke ruang tamu dari dapur, dia membawa dua buah piring berisi makanan ringan.
“Istirahat dulu Mpet. Nih teteh bikinin roti bakar.” Teh Ara berbicara dengan riang, sambil menyimpan kedua piring itu diatas meja.
“Makasih Teh, ngerepotin.” Vetra tersenyum.
“Santai aja Mpet, kayak dimana aja.” Teh Ara mencomot sepotong roti dari piring itu, kemudian memakannya.
“Mpet Mpet.. gak sopan amat sih manggilnya.” Angga nyeletuk.
“Idih sewot! Orangnya aja gak protes.” Teh Ara mencibir ke arah Angga, sambil melemparkan bantal dari sofa. Angga menangkap bantal itu dengan kedua tangannya.
Ō
“Kakinya masih sakit?”
“Lumayan.” Angga menjawab singkat. “Kamu gak apa-apa?” Angga balik bertanya sambil melirik ke arah spion. Motornya dengan santai melaju di jalanan yang cukup padat, dia sedang mengantarkan Vetra pulang ke rumah setelah mereka selesai belajar bersama.
“Maksudnya?” Vetra membuka kaca helmnya, agar bisa mendengar dengan lebih jelas.
Angga diam selama beberapa detik. Dia tadinya hendak bertanya tentang cokelat itu, tapi pada detik terakhir dia mengurungkan niatnya, dan malah mengganti pertanyaannya dengan yang jauh lebih ringan.
“Ya itu, saya sampai sekarang gak ngerti kenapa kamu mau dipanggil Mpet sama Teh Ara.” Angga bertanya dengan spontan.
“Oh itu.. emangnya kenapa?”
“Ya aneh aja. Saya kira kamu bakal nolak mentah-mentah dipanggil gitu.” Dia tertawa. Angga membelokan motornya ke arah kiri, masuk ke sebuah komplek perumahan untuk memotong jalan, dan menghindari macet.
“Bisa dibilang saya malah seneng.”
“Oya?”
“Nama panggilan itu nunjukin bahwa Teh Ara nyaman bergaul dengan saya Ga. Dan jujur aja, selama ini gak banyak orang yang ngerasa begitu.”
Vetra kemudian teringat pada saat pertama kali Tiara memanggilnya Mpet, mungkin sekitar beberapa bulan yang lalu. Saat itu mereka sedang makan siang bersama di sebuah kafe, sehabis dari toko buku. Teh Ara tiba-tiba bercerita kepadanya tentang keinginannya memiliki seorang adik perempuan, dan bagaimana Vetra sangat pas dengan definisi seorang adik yang selama ini dia bayangkan, Vetra kemudian mengatakan bahwa dia tidak akan keberatan memiliki seorang kakak yang klop saat diajak berdiskusi seperti Teh Ara. Saking senangnya, saat itu tanpa meminta persetujuan terlebih dahulu Teh Ara langsung memberikan nama panggilan untuknya, dan Vetra sama sekali tidak bisa menolaknya.
“Kalo gitu, saya termasuk dari sedikit orang yang beruntung itu ya?”
“Maaf? Gimana?” Vetra tidak terlalu memperhatikan.
“Saya termasuk dari sedikit orang yang beruntung ya? Dia mengulangi
“Yah, bisa dibilang itu karena kita memiliki kesamaan.”
Angga kemudian terkekeh.
“Kenapa?”
“Taun lalu kamu bilangnya kita berdua sama sekali gak mirip. Masih inget? hahaha.”
Vetra tiba-tiba merasa sangat malu. Angga ternyata masih mengingat saat-saat pertama mereka bertemu dulu.
“Impuls dan logika..” Angga terus menggodanya
“Udah deh.” Vetra tampak semakin malu. “Saya sebegitu menyebalkannya ya dulu?”
Angga membawa motornya keluar dari komplek perumahan, kembali menuju jalan besar. Baru beberapa ratus meter, perjalanannya kembali terhenti karena lampu merah.
“Yang penting sekarang kamu udah berubah Vet.” Angga mengetuk helm Vetra dengan bagian belakang helmnya.
Vetra mengangguk, ya, dia setuju. Tidak ada gunanya lagi mengingat masa lalunya, sekarang dia sudah berubah, dia telah sadar banyak orang di sekitarnya yang memperhatikan dan menyayanginya. dia sudah tak perlu menanggung semuanya sendirian.
Sekitar sepuluh menit kemudian mereka telah sampai di depan rumah Vetra. Gadis itu turun dari motor Angga, kemudian melepaskan helmnya.
“Masuk dulu?”
“Udah sore.” Angga menggeleng.
“Hmm.. padahal yang tadi pagi ngasih cokelat pasti seneng kamu masuk dulu.” Vetra tersenyum sinis.
“Eh?” Angga tersentak kaget. Timing yang luar biasa. Angga hanya terpaku dan tak bisa berkata-kata. Dia melihat Vetra masuk dan menghilang di balik pintu rumahnya.
Ō
Vetra melepaskan sepatunya, kemudian meletakannya di dalam rak. Dia lalu berpikir, kira-kira bagaimana reaksi Angga mendengar ucapannya tadi ya? Sebenarnya dia sendiri pun sedikit kesal karena seharian ini Angga sama sekali tidak memberitahukan soal cokelat itu kepadanya. Apakah dia memang berniat menyembunyikan soal hal itu? Ataukah dia menganggap hal itu tidak penting untuk dibicarakan? Astaga.. Dia menggelengkan kepalanya, terlalu banyak asumsi yang dia buat dan pikirkan sendiri. Vetra pun sepertinya tidak bisa berpikir dengan jernih sepanjang hari ini.
Dia berjalan di koridor rumahnya, saat melihat ke arah dapur, dia melihat Tetra sedang membuka kulkas, Tetra yang menyadar kakaknya pulang langsung mendekatinya.
Ini dia katalis semua kerumitan ini.. pikirnya sambil memandangi Tetra yang sedang memegang minuman soda.
“Halo sist! Gimana tadi?”
“Apanya?” Vetra pura-pura tidak tahu, dia berjalan menjauh, dan meletakan tasnya di sofa ruang tengah.
“Cokelatnya. Kak Angga ngomong sesuatu ke kakak gak?”
Vetra menggelengkan kepala.
“Dia gak bilang apa-apa.”
“Yah.. ya udah nanti aja ade sms deh.”
“Emang kamu punya nomor hapenya?”
“Nggak, sini minta dong sist.”
“….”
Ō
Angga merebahkan diri di kasurnya. Dia baru saja selesai mandi dan makan malam. Kedua matanya memandang langit-langit kamar, sudah tak terdengar suara televisi dari lantai bawah. Sepertinya ibunya sudah masuk ke dalam kamar, begitu juga kakaknya, yang sepertinya sedang asyik mengerjakan tugas di kamarnya.
Saat-saat seperti ini sangat nyaman digunakan untuk melamun. Tapi saat ini dia tidak bisa tenang. Pikirannya tertuju pada dua hal. Sekotak cokelat dan sebuah kalimat hanya teman. Angga bangkit, mengambil cokelat itu dari dalam ranselnya, setelah itu dia kembali merebahkan diri sambil memandangi bungkusan itu.
Apa yang harus dia lakukan? Sebenarnya semua tampak jelas, Tetra menyukainya, dan Vetra hanya menganggapnya sebagai seorang teman. Jika dipikir dengan normal tentu saja mudah baginya untuk menyambut perasaan Tetra. Tapi tidak sesederhana itu, dia masih belum bisa menerima kenyataan bahwa setelah semua hal yang mereka lewati bersama, Vetra hanya menganggapnya sebagai seorang teman saja. Haruskah dia bertanya langsung kepada Vetra?
Angga menghela nafas panjang. Dia membuka bungkusan cokelat itu, mematahkan sedikit bagian ujungnya, kemudian memakannya.
Manis..
Ō
Angga mendapati dirinya sedang berada di sebuah trotorar jalan. Dia terkesiap, merasa sedikit kebingungan. Kenapa dirinya bisa tiba-tiba berada disini? dia mencoba mengingat-ingat posisinya sebelum sampai di tempat ini, tapi dia tidak bisa.
Dia melihat ke kanan dan kiri. Jalanan itu dipenuhi oleh orang yang berlalu lalang. Angga memperhatikan mereka satu persatu, tak ada satupun wajah yang familiar, mereka sepertinya bukan orang Indonesia, walaupun kebanyakan dari mereka terlihat seperti orang melayu.
Dia melihat sepasang orang barat berjalan melewatinya, keduanya mengenakan setelan santai, kaos oblong, celana pendek, dan sandal jepit. Mereka terlihat seperti sepasang turis, Angga bisa melihat kamera yang sedang dipegang oleh sang pria, sementara sang wanita sedang asyik memperhatikan peta, mulutnya tampak komat-kamit.
Angga terus memandangi mereka sampai keduanya menghilang di tikungan jalan. Dia lalu kembali mengedarkan pandangan ke jalanan di sekelilingnya, jalan raya di tempat itu terlihat didominasi oleh sepeda motor, dia mengernyit, dimana ini sebenarnya?
Dia mencoba berjalan, tak tentu arah. Hanya mengikuti instingnya. Semua orang di tempat itu tampak tak acuh, tak ada seorangpun yang memperhatikannya. Dia berjalan selama beberapa waktu, melewati beberapa rumah, sebuah gedung tinggi, sampai akhirnya dia berada di depan sebuah pasar. Angga melihat papan yang terdapat di depan pasar itu, tapi dia tidak dapat melihat tulisannya, tulisannya tampak kabur dan tidak bisa dimengerti.
Angga melihat ke atas, matahari tampak sedang terik menyengat, tapi anehnya dia tidak merasa kepadanasan sedikitpun, kulitnya tampak tidak mengeluarkan keringat.
Tiba-tiba sebuah mobil melaju kencang dari arah belakang, hampir menyerempetnya. Angga melompat ke samping, membenturkan diri ke dinding beton.
Kenapa dia tidak menyadari ada mobil yang lewat?
Angga terkesiap, dia menyadari sesuatu. Angga melihat ke sekelilingnya, di tempat ini banyak sekali orang yang terlihat sedang berbicara, tapi.. dia tak bisa mendengar apapun!
Dia sekarang menyadari ternyata tak ada sedikitpun suara yang bisa dia dengar semenjak tadi. Padahal di tengah hiruk pikuk orang yang berlalu lalang, dan kondisi jalanan yang ramai oleh kendaraan, seharusnya tempat ini sangat berisik. Tapi dia tak bisa mendengar apapun. Angga mencoba berteriak, tapi tak ada suara yang keluar. Dadanya mulai berdegup kencang, dengan sedikit panik dia meraba-raba telinganya, mencoba mencari tahu apa yang tidak beres.
Kedua telinganya masih ada, itu membuatnya sedikit lega, tapi tetap saja dia tidak bisa mendengarkan apapun. Angga mencoba untuk bertepuk tangan di dekat telinganya, percuma. Dia semakin panik. Angga kemudian mulai berlari, dia tidak peduli kemana arah larinya, beberapa kali dia menabrak orang yang berjalan dan hampir terjatuh, tapi dia tidak perduli, dia terus berlari dengan liar.
Tiba-tiba kedua matanya menangkap sesuatu. Ada seorang pria yang sedang berdiri di seberang jalan. Kedua mata mereka bertemu selama beberapa saat. Angga langsung sadar jika pria itu sedang memperhatikannya. Pria itu sudah cukup berumur, memiliki wajah murung, dengan mata bulat dan menggantung, kepalanya sedikit lonjong, dan hanya ditumbuhi oleh beberapa helai rambut. Angga bisa langsung menyadari keberadaannya karena perilakunya yang sangat kontras, pria itu hanya berdiri diam, sementara yang lain sibuk bergerak.
Angga berhenti berlari. Dia balik menatap pria itu.
Siapa dia?
Angga mencoba berjalan mendekat, dia hendak menyebrang jalan. Pria itu tiba-tiba mengeluarkan tangan kanannya dari dalam saku, seraya menggerakannya ke depan, menyuruhnya berhenti. Angga berhenti berjalan, keduanya kembali saling bertatapan. Kemudian terjadilah hal yang sangat tidak diduga. Kedua telinga Angga bergedengung dengan hebat, dia langsung berteriak, terduduk sambil memegangi kedua telinganya.
Sakit….
Dengungan suara itu makin keras, seakan-akan semua bunyi-bunyian yang ada di dunia dipadatkan dan dijejalkan ke dalam telinganya. Selama kejadian itu berlangsung dia hanya bisa berguling-guling di trotoar, sambil berteriak kesakitan.
Setelah akhirnya suara itu mulai mereda, Angga mulai dapat mendengar dengan normal, dia bisa mendengar hiruk pikuk orang yang sedang mengobrol, suara langkah kaki, suara mesin, knalpot, klakson, dan suara-suara lainnya.
Angga bangkit dari posisi terlentangnya, dia langsung memandang ke seberang jalan, tapi pria itu sudah tidak ada disana, menghilang. Angga memejamkan kedua matanya, dia merasa sangat lelah, lalu semuanya berangsur menjadi gelap.
Angga membuka mata, dia menatap langit-langit kamarnya. Dia dapat merasakan seluruh tubuhnya saat ini basah oleh keringat.
Dia menghela nafas..
Lagi-lagi mimpi aneh..
Ō Ō Ō
About #54 : Yah.. bagian ini masih bergenre romance.. buat yang geli bacanya, tenang aja, kalian gak sendirian, saya aja yang buat geli. hahaha.. mohon bersabar, saya janji dalam beberapa bab ke depan akan ada transisi yang jelas menuju ke inti cerita :)
enjoy..
Like this:
2 bloggers like this post.
Saya pikir segitiga, ternyata segi empat… hmmm :)
Masih nunggu perkembangan intinya nih, udah smp 3 bab blm keliatan.
baru 3 bab mbak.. santai.. hehehe
edisi valentine nih :D
wahahaha.. ngepas ya bulannya :D
hihihi
Nah..gimana nasib coklat nya ?
Abis dimakan lah.. hahaha
hahahaha…. pengen manggis malah mangga yang jatoh….
pengalaman pribadi ham?? hahahaha asal nebak… ngakak lagi ah………………..
Hahaha.. bukan rik, sayang sekali nasib saya gak sebagus angga :P
Friendzone? Atau perang batin?
Sensezoned :p
Right hand-zoned XD