Ilham.Menulis

Sebagian besar isi kepala saya

[SOURCE] – #58

Kamis, 24 April 2008

Bunyi bel nyaring terdengar dari sound system yang dipasang di seluruh bagian sekolah. Memecah kesunyian dan konsentrasi semua murid kelas tiga yang sedang melaksanakan ujian. Satu persatu murid tampak keluar dari dalam kelas. Celotehan, gurauan, serta makian terdengar nyaring keluar dari mulut mereka. Dari sebuah kelas terlihat ada seorang gadis yang tak kuasa menahan air mata yang jatuh dari pelupuk matanya, beberapa orang temannya langsung mendekat dan berusaha untuk menenangkan sekaligus menghiburnya. Tak jauh dari mereka tampak sekelompok murid yang tertawa riang. Bukan, itu sama sekali bukan tawa karena mereka bisa mengerjakan semua soal ujian dengan lancar,  tapi tawa pasrah. Tawa yang timbul saat semua yang kita persiapkan tampak sia-sia, dan kita tak berdaya berbuat apa-apa. Mereka hanya bisa tertawa dan menggeleng-gelengkan kepala karena tingkat kesulitan soal ternyata jauh dari perkiraan mereka. Tapi rupanya ada pula beberapa murid pintar yang langsung tersenyum begitu keluar dari dalam kelas, Bagi para murid berotak encer yang sudah mempersiapkan semuanya sejak jauh-jauh hari, berkutat dengan kumpulan soal, serta pulang-pergi bimbingan belajar sampai jauh malam, tiga hari ini hanyalah hari biasa yang bisa dilewati dengan seringai.

Dari salah satu kelas tampak Angga berjalan keluar dengan wajah kusut. Matanya tampak sayu dan wajahnya sedikit pucat. Baginya ujian tadi berlangsung jauh lebih lama daripada seharusnya, membuat konsenstrasinya buyar tak karuan.

Angga berjalan ke arah balkon lantai dua, darisana dia menyandarkan dirinya pada tembok pembatas. Dia menarik nafas sebanyak-banyaknya melalui hidung, mencoba menghirup sejumput wangi kebebasan. Setelah ini dia sudah tidak akan berurusan lagi dengan semua pelajaran sekolah.

Dia lalu memandang ke arah para murid yang sedang berkumpul di lapangan, ada yang sedang melompat-lompat, ada yang duduk membentuk sebuah lingkaran besar, lalu ada juga yang asyik melakukan sesi foto. Angga tersenyum melihat itu semua, entah kenapa saat ini dia seperti sudah berada di semesta yang berbeda dengan mereka semua, dia seakan telah menjadi sesosok alien yang tersesat di bumi. Tiba-tiba Vetra menepuk bahunya dari belakang.

Ini dia alien satu lagi..

“Hey.”

“Hmmh.”

“Lagi apa?”

Angga tidak menjawab, dia hanya menunjuk ke arah lapangan dengan dagunya.

“Ngapain mereka?”

“Foto-foto.”

“Melepas stress ya?”

Angga mengangguk.

“Tadi gimana?” Vetra bertanya dengan wajah riang. Dia dan Angga memang berada di kelas yang berbeda selama ujian nasional.

“Jangan nyengir gitu deh, kamu sih enak, kayaknya lima belas menit udah selesai.”

“Tadi pengawasnya sampai ngira saya dapet bocoran loh.” Vetra ikut menyandarkan diri di tembok pembatas, dia menggunakan tangannya untuk menghalangi sinar matahari yang bersinar dengan terik di atas sana.

“Gara-gara kamu selesai cepet?” Angga berusaha menahan tawanya.

“Itu, dan satu lagi karena kertas oretan saya bersih.”

“Itu sih gak aneh, terus gimana?”

“Karena dia gak percaya, saya tunjukin gimana cara saya nyelesein semua soal.”

“Pake rumus alien kamu?”

“Enak aja alien, cara cepat.”

“Yaa.. itulah.” Angga terkekeh.

“Tapi pengawasnya masih gak percaya. Jadi saya tunjukin gimana cara penyelesaian soal itu menggunakan delapan cara konvensional lainnya, biar dia puas.”

“Delapan?”

“Sebenarnya ada dua belas cara yang saya tau, tapi karena dia bilang sudah cukup saat saya selesai menggunakan formula ke delapan, jadi ya begitulah.”

“Sekarang dia pasti lagi shock berat.” Angga menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tertawa. Sepertinya di dalam briefing pengawas pihak sekolah lupa memberi tahu mereka agar tidak mencari-cari masalah dengan Vetra.

“Kamu gimana ujian tadi?”

“Tadi bisa dibilang saya curang Vet.” Angga mengaku.

“Curang? Kamu nyontek?”

“Gak lah.”

“Lalu?”

“Ayah kamu udah cerita kan soal kemampuan precogniton saya yang agak kacau belakangan ini?”

“Ya, dia pernah bilang selain bermimpi aneh kamu juga jadi sering mengalami sebuah kejadian berulang-ulang.”

“Yang saya alami itu semacam redudansi. Seperti sebuah rekaman yang terus menerus diputar ulang pada sebuah adegan pendek yang sama.”

“Kok bisa sih.”

“Gak tau, ayah kamu bilang ini gara-gara stress. Tapi sepertinya bukan karena itu Vet.” Angga mengambil jeda untuk menarik nafas.

“Tadipun seperti itu. Saya udah selesai mengerjakan setengah dari semua soal saat saya sadar kalau itu cuma precognition, dan saya harus mengulang semuanya dari awal lagi. Semua Itu berulang tiga kali, dalam interval kira-kira satu jam setiap kalinya, bayangkan.. tiga kali mengerjakan soal yang sama, saya sampai bosan membaca soal.”

“Hmm.. Jadi kalau ditotal kamu sebenarnya mengerjakan ujian tadi dengan waktu yang lebih lama daripada yang lainnya ya?”

“Ya.”

“Memang curang.”

“Tapi pada kenyataannya semua itu terjadi pada menit-menit awal ujian. Pengulangan yang terakhir membawa saya pada menit ke lima. Percaya atau enggak, ujian kali ini saya selesai lebih dulu dari kamu Vet.” Angga tersenyum bangga, sementara Vetra hanya tertawa kecil.

Keduanya lalu terdiam selama beberapa saat, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Namun mereka masih memandangi puluhan manusia di bawah sana. Kerumuman itu sekarang semakin besar, mereka semua sepertinya sedang berfoto dengan membentuk sebuah tulisan raksasa. Seorang murid pria berlari-lari kecil dari arah tangga, dia mengambil tempat berdiri beberapa meter dari Vetra. Murid itu sibuk berteriak-teriak dan memberikan komando. Di dadanya tergantung sebuah kamera DSLR hitam yang tampak terlalu besar untuk tubuhnya yang kecil.

“Tinggal sebentar lagi ya.” Angga kembali membuka percakapan, dia bosan menatap ke bawah, jadi dia mengedarkan pandangannya ke atas, menatap ke arah kumpulan awan yang tampak menggantung rendah di langit.

“Apanya?”

“Waktu kita di SMA ini.”

Vetra mengangguk. “Memangnya kenapa?”

“Gak apa-apa.. hanya saja, beda dengan kamu, saya belum bisa menentukan kemana hidup saya bakal dibawa Vet.”

“Soal apa ini?”

“Kuliah. Saya masih bingung Vet.”

“Saya juga begitu kok. Harvard itu pilihan papa.”

“Apa.. nanti kita bisa ketemu lagi Vet?”

“Eh?”

“Setelah kamu pergi kesana, apa kita bakal jadi dua orang asing dan berpura-pura tidak mengenal satu sama lain?”

Vetra menggeleng.

“Konyol, Gak lah.” Dia tersenyum simpul.

“Semoga begitu Vet.” Angga ikut tersenyum.

Ō

Sebuah Toyota Rush melaju dengan kencang membelah hingar-bingar Jakarta di malam hari. Sang pengemudi tampak bersemangat, dia baru saja mendapatkan sambungan telepon yang sudah lama dia tunggu-tunggu. Sambungan telepon yang akan mengubah nasibnya, kehidupannya, statusnya, dan yang jelas, menambah jumlah uang di rekening pribadinya.

Dia membawa kendaraannya ke salah satu sudut pertokoan di pinggiran kota Jakarta. Di sepanjang jalan tak sedikit dia melihat para PSK yang sedang asyik menjajakan ‘dagangannya’. Satu dua mobil sesekali berhenti di depan mereka, mencoba untuk bertransaksi, mencari sekejap kehangatan di malam sedingin ini.  Dia hanya tersenyum miris melihat pemandangan itu, pria macam apa yang mencari kesenangan di tempat seperti ini? sama sekali tidak berkelas.

Setelah lima belas menit berkendara, dia mulai memperlambat laju kendaraannya, dia melihat ke kiri dan kanan, mencoba memastikan bahwa dia tidak salah jalan.

Dia berhenti di depan etalase sebuah toko yang sudah tutup. Dinding toko itu dipenuhi oleh coretan-coretan usil dari para seniman jalanan yang menganggap setiap dinding bersih di kota sebagai kanvasnya, adalah hobi mereka untuk menggauli keperawanan dinding dengan pilox dan cat tembok.

Pria itu melihat spion di kaca depan, memastikan bahwa tak ada yang sedang mengikutinya. Setelah dia merasa situasi cukup aman, dia melakukan sebuah panggilan melalui ponselnya.

Beberapa menit kemudian dari arah gang keluar sesosok wanita. Perawakannya sedang, kulitnya cokelat karena proses tanning, rambutnya ikal sebahu. Dia mengenakan sebuah mantel bulu berwarna oranye untuk menahan udara malam yang dingin. Tangan kanannya menggenggam sebuah koper kecil berwarna putih.

Wanita itu langsung mendatanginya dan mengetuk jendela mobil. Sang pria dengan segera membuka jendela.

“Ini barang pesanan anda.”

Pria itu hanya mengangguk, tangannya dengan cepat ingin meraih koper itu, tetapi sang wanita langsung menarik koper itu ke belakang.

“Sisa pembayaran seratus lima puluh juta.”

Pria mengambil sebuah koper dari bangku belakang, dia membukanya sedikit, memperlihatkan isinya kepada wanita itu. Setelah itu mereka berdua saling bertukar koper lewat jendela mobil.

“Kami benar-benar tidak bertanggung jawab atas barang yang sedang anda pegang. Semua hal yang akan terjadi mulai saat ini adalah tanggung jawab anda.

“Ya, saya mengerti.” Pria itu akhrinya berbicara

Wanita itu kemudian pergi menjauh. Dalam waktu singkat dia menghilang di balik gelapnya malam.

Beberapa menit berselang.

Pria itu mencoba untuk mengatur nafasnya, menyelaraskan ritme detak jantung dan adrenalinnya, serta membunuh suara-suara berisik di dalam setiap sel neuronnya.

Berbulan-bulan dia telah mempersiapkan ini semua, semua persiapan telah selesai, rencana yang dia susun sudah sempurna, dan bidak catur sudah berada di tempat yang tepat. Sebentar lagi adalah saatnya untuk beraksi.

Dia memutar kunci koper kecil itu. Saat dia membukanya, sebuah mekanisme di dalam koper langsung bekerja, menyalakan empat buah neon kecil berwarna biru di setiap sisi koper. Pria itu dengan takjub melihat sebuah benda yang berada di dalam koper. Dia menggelengkan kepalanya dalam rasa kagum, bahkan sepanjang karirnya, baru sekarang dia melihat hal seperti ini.

Sungguh sebuah mahakarya yang sempurna.

Ō

Teh Ara membanting pintu kamarnya dengan keras, menimbulkan suara berdebam dan getaran di seluruh bagian rumah, sekaligus membuat Angga yang sedang mendengarkan musik di kamarnya terlonjak kaget.

Dengan segera dia keluar dari dalam kamar. Dia melihat kamar kakaknya tertutup rapat. Angga mencoba mengetuk pintu kamar kakaknya.

Tidak ada jawaban dari dalam, dia kemudian mengetuk dengan lebih keras, kali ini disertai panggilan.

“Teh, gak apa-apa?”

……

“Teh, masuk ya.”

Angga memutar kenop pintu, ketika dia baru membuka pintu itu sepertiganya, teh Ara tiba-tiba mendorong pintu itu dari dalam, membuat Angga terjungkal ke belakang.

“Aduuh!”

“Jangan masuk!” teh Ara berteriak dari dalam kamar.

“Apaan sih!” Angga segera berdiri, dia mengusap-usap lengannya yang ngilu karena membentur lantai.

Angga sedikit kesal, dia mencoba untuk membuka pintu itu kembali, tapi kali ini pintu tersebut sudah dikunci. Dia mencoba mengetuk lagi, tapi tidak ada jawaban dari dalam kamar kakaknya itu.

Angga turun ke lantai satu, mencari-cari ibunya. Dia menemukan ibunya sedang duduk di sofa, membaca majalah.

“Teh Ara kenapa mam?”

“Gak tau. tadi pulang-pulang dia langsung ngomel gak karuan terus naik ke atas. Mami tanya juga gak jawab.”

“Gak biasanya teh Ara gitu mam, ada apa ya?”

“Tunggu aja Ga. Nanti juga dia cerita sendiri.”

“Mami gak khawatir?” Angga mengerutkan kening.

“Tenang aja, dia udah dewasa. Mungkin lagi bertengkar sama pacarnya.” Ibunya berbicara sambil terus membolak-balik halaman majalah.

Angga tak melihat ada tanda-tanda teh Ara akan keluar dari kamar. Bahkan ketika ibunya datang membawakan makan malam, teh Ara menolak untuk membukakan pintu. Tebakan ibu Angga melebar jadi serangan jerawat dan bisul, atau bisa juga  kakaknya sedang mengalami masa-masa PMS yang parah. Angga sendiri tidak punya tebakan, dia baru kali ini melihat teh Ara bersikap seperti itu. Walaupun teh Ara galak dan mereka sering bertengkar, biasanya Anggalah yang akhirnya membanting pintu kamar, bukan sebaliknya.

Keesokan harinya semua tanda tanya itu terjawab. Sekitar pukul enam pagi teh Ara keluar dari dalam kamarnya. Wajahnya tampak kusut dan rambutnya acak-acakan. Masih dalam balutan piyama teh Ara turun ke lantai bawah, dan langsung masuk ke dapur. Disana dia cukup lama menatap Angga yang sedang sibuk membuat sandwich seadanya dengan isi sarden dan telur mata sapi.

“Ga.” Teh Ara memanggilnya sambil mengambil mug dari dalam lemari, lalu mengisinya dengan air putih.

“Hmm?” Angga menjawab singkat, seluruh perhatiannya sedang terpusat pada wadah sarden yang ternyata sulit dibuka.

Teh Ara meminum habis air putihnya, setelah itu dia meletakan mugnya di tempat cucian.

“Ga.” Teh Ara memanggil lagi.

“Ya? Kenapa Teh?” Kali ini Angga menjawab sambil menatap wajah kakaknya yang kusut.

“Kita gak jadi liburan ke Thailand.” Teh Ara berkata dengan nada datar.

“Eh? Hah?” Angga masih belum bisa mencerna makna dari kalimat tersebut secara utuh, tapi teh Ara sudah naik lagi ke lantai dua, masuk ke dalam kamar, dan kembali mengunci pintunya.

Ō

Tepat dua minggu sebelum hari keberangkatan. Harapan Teh Ara untuk pertama kalinya terbang melintasi samudera menggunakan burung besi sirna sudah. Kemarin kampusnya mengumumkan bahwa jadwal ujian semester akan dimajukan satu minggu. Sebenarnya bukan maslaah besar, tapi sialnya hal itu bentrok dengan jadwal keberangkatannya.

Sebenarnya Teh Ara bisa saja tidak ikut ujian dua mata kuliah yang jadwalnya berbenturan dan nekat pergi liburan. Tapi itu tentu bisa mencoreng predikat terpujinya di kampus, dan yang lebih parah, dia tentu saja harus mengulang lagi kedua mata kuliah tersebut di semester depan, dan impiannya untuk lulus kuliah dalam waktu tiga tahun bisa jadi ikut tidak akan terlaksana.

Itulah yang membuatnya berada dalam mood kurang bagus semenjak kemarin. Di satu sisi dia ingin merasakan nikmatnya naik pesawat dan liburan gratis di negeri gajah putih, tapi di sisi lain dia menyadari tiga hari dua malam penuh kebahagiaan itu harus dia bayar dengan harga yang cukup mahal.. bahkan terlalu mahal. Maka dari itu dia memutuskan untuk ikut ujian daripada berlibur ke Thailand, ini membuat Angga sedikit kecewa. Dia tentu bisa mengerti, tapi tetap saja rasa kecewa itu ada.

“Kamu pergi kesana sendiri aja Ga, toh yang dapet tiket itu sebenernya kamu kan.” Teh Ara berbicara sambil duduk di sudut tempat tidur Angga.

“Gak ah, mana rame kalau sendirian teh.” Angga mendengus.

“Sayang loh, paspor sama visanya kan udah jadi. Udah pergi aja, ajak siapa kek. Teteh gak apa-apa kok.”

Ironis, Angga bisa melihat jelas sorot kesedihan dan kekecewaan terpancar dari kedua bola mata kakaknya.

“Ajak siapa ya?”

“Ya siapa kek temen kamu. Si Mpet ajakin tuh.”

Ide bagus..

“Hmm.. Angga pikir-pikir dulu deh teh, toh masih ada dua minggu lagi.”

“Maaf ya Ga, bukannya teteh gak mau loh.”

“Iya teh, Angga ngerti kok.”

Teh Ara mengangguk perlahan, dia lalu berdiri dan keluar dari kamar adiknya, sambil menutup pintu.

Baru beberapa detik terlewati, tiba-tiba terdengar suara dering ringtone dari ponselnya. Angga dengan susah payah meraih ponselnya yang tergeletak di sudut meja dengan sebelah tangan. Dia tidak ingin bersusah-susah untuk bangkit dari posisi tidurnya. Angga melihat sekilas layar ponselnya, sebuah nomor tak dikenal menelponnya. Dengan ragu dia mengangkat telepon itu.

“Halo?”

“Halo Ga.”

“Ya? Siapa ini?”

“Excel.”

“Ooh, hey! Apa kabar nih?” Angga lega, ternyata orang yang dia kenal.

“Baik-baik aja. Eh sori nih, lagi buru-buru. Cuman mau ngasih tau nih, inget kan pameran berlian yang saya ceritain dulu? Pembukaannya empat hari lagi. Usahain dateng ya.”

“Sabtu ini?”

“Ya, kasih tau Vetra juga. Kita ketemu disana.”

“Oke, jam berapa?”

“Jam.. Bentar… ya.. ya.. saya pergi sekarang.. duh, sori, nanti saya smsin detailnya, gotta go..

Tuuut… tuuuut…

Sambungan telepon langsung ditutup, Excel sepertinya sedang sangat sibuk. Sudah lama mereka bertiga tak bertemu. Tapi dari berita yang dia dengar, sepertinya Excel serius untuk meneruskan bisnis berlian dan barang antik yang digeluti ayahnya dulu. Dia saat ini selain sekolah juga ikut mengurus perusahaan yang ditinggalkan oleh ayahnya.

Tak lama kemudian sms jam pertemuan masuk ke ponselnya. Angga lalu mencoba menghubungi Vetra untuk memberitahukan kabar baik ini, sekaligus memberitahukannya soal kakaknya yang batal pergi ke Thailand. Tapi setelah tiga kali mencoba, gadis itu tak juga mengangkat teleponnya.

Angga kemudian menghubungi Tetra, bertanya apakah Vetra ada di rumah, ternyata ada. Tanpa menunggu lagi Angga segera mengambil jaket dan kunci motornya. sudah cukup lama dia tidak berkunjung ke rumah Vetra.

Ō

Sudah lebih dari satu jam Vetra duduk di sofa ruang tamu sambil terus memandangi jam besar yang berdiri disana. Matanya dengan awas memandang nanar ke arah bandul yang bergerak dengan konsisten, hidup dalam semesta dua dimensi bernama kiri dan kanan. Vetra terus memandanginya, menghitung setiap gerakan konstan dari titik suspensinya.

Kenapa lama sekali..

Beberapa jam yang lalu Toni pergi menjemput Mark di bandara. Dalam kondisi jalanan normal dan tanpa hambatan, mereka berdua seharusnya sudah sampai disini setidaknya satu jam yang lalu. Tapi nyatanya sampai saat ini dia belum mendengar deru suara mobil yang digunakan oleh Toni, maupun suara pintu gerbang yang terbuka secara otomatis.

Gadis itu dapat merasakan detak jantungnya yang berdenyut tidak karuan, setiap kali memikirkan soal Mark. Seperti apa rupanya saat ini? masihkah dia ingat kepadanya? Apakah dia sudah berubah? Dan berbagai pertanyaan lainnya terus berputar-putar di dalam kepalanya.

Tiba-tiba terdengar suara pintu gerbang terbuka. Vetra bangkit dengan semangat dan langsung berjalan cepat ke pintu depan, menyambut tamu kehormatan yang sudah lama tidak dia jumpai. Masih dengan semangat yang sama dia membuka pintu, dia sudah mensimulasikan adegan ini ratusan kali di dalam kepalanya, akhirnya mereka berdua bisa bertemu kembali, sebuah senyum kecil tersungging dari bibirnya.

“Hello Ma….” suaranya tiba-tiba tercekat, tidak dapat keluar dari tenggorokannya.

“Ceria amat.” Angga berdiri di depan pintu, merasa heran dengan semangat Vetra yang tidak biasanya.

“Ternyata kamu Ga.” Senyum itu langsung menghilang.

“Kamu kira siapa Vet?”

“Bukan siapa-siapa, Ayo masuk.” Vetra tanpa basa-basi menyuruh Angga masuk. Setelah memastikan tidak ada siapa-siapa diluar, dia menutup pintu depan dan menyusul Angga ke ruang tamu. Mereka berdua lalu duduk di atas sofa empuk dan nyaman.

“Mau minum apa?”

“Nanti aja.”

Vetra mengangguk. “Terus, ada apa nih?”

“Tadi saya telepon gak diangkat-angkat.”

Vetra meraba sakunya, dia tidak sadar ponselnya tertinggal di kamar.

“Oh maaf, kayaknya hape ada di kamar. Kenapa emang?”

“Excel nelpon, katanya pembukaan pamerannya empat hari lagi, dia ngajak ketemu disana.”

“Apanya yang empat hari lagi?” Sebuah suara terdengar dari arah koridor, Tetra datang dengan wajah riang. Dia membawa dua gelas es jeruk di tangannya. Rupanya adiknya ini sangat cekatan, terutama mengenai segala hal yang berkaitan dengan Angga.

“Eh Tetra.”

“Eh kak Angga.” Tetra membalas dengan menirukan suaranya, ditambah sebuah senyuman mematikan.

Tetra memberikan segelas minuman kepada Angga, dan satu gelas lagi untuk Vetra, dia lalu duduk di sebelah kakaknya.

“Punya kamu mana?”

“Di dapur.” Tetra menunjuk ke arah dapur.

“Ohh, Empat hari lagi ada pameran berlian. Mau ikut?” Vetra menawarkan sambil mengambil gelasnya, dia mengaduk minuman itu dengan perlahan, menimbulkan sebuah simfoni dentingan es yang sederhana namun merdu.

“Boleh?” Tetra tampak tidak percaya.

“Boleh kok. Sekalian ajak mama aja, dia pasti mau.”

“Asiik, kita pergi rame-rame dong?”

Angga ikut mengangguk, tak ada salahnya mengajak keluarga Vetra, siapa tau ibunya menemukan satu dua berlian bagus saat pameran nanti. Dia yakin harga yang ditawarkan saat pameran itu termasuk ‘murah’ bagi Vetra dan keluarganya.

“Kalian berdua mau ngapain kesana?” Tetra kembali bertanya.

“Ketemu temen lama.” Angga menjawab

“Dia kerja disana?”

“Bukan”

Angga kemudian meceritakan soal Excel kepada Tetra, tentunya tidak dengan spesifik. Dia hanya menceritakan bahwa Excel saat ini menggantikan ayahnya yang telah meninggal sebagai kolektor berlian dan pedagang barang seni. Dia sama sekali tidak menceritakan kapan dan bagaimana ayahnya meninggal, Tetra sampai saat ini tidak tahu apa-apa soal ICARUS, dan sebaiknya tetap begitu.

Lalu terdengar suara pintu gerbang terbuka. Vetra langsung menangkap suara itu, dilanjutkan oleh suara deru mobil yang sudah sangat familiar di telinganya.

Itu Toni…

“Ada apa Vet?”

Vetra tidak menggubrisnya, dia terus memfokuskan seluruh sel dari indera pendengarnya untuk menangkap suara-suara yang berasa dari halaman rumahnya.

Terdengar suara pintu mobil dibuka.. lalu bagasi.. lalu dua pasang langkah kaki.. tidak salah lagi..

Vetra hampir saja melompat dari kursi, dia segera berdiri dan berjalan setengah berlari ke pintu depan.

“Vet! Tunggu!” Angga ikut berdiri dan mengejarnya dari belakang, Tetrapun mengikutinya karena penasaran.

“Kenapa dia?”

Tetra mengangkat bahu.

Pintu depan terbuka. Yang pertama kali dilihatnya adalah wajah Toni yang tersenyum puas, lalu tepat di belakangnya, seorang pria jangkung berdiri, pria berambut pirang kecokelatan itu tampak sangat senang ketika matanya beradu dengan mata Vetra.

Mark meletakan tasnya, dia kemudian membuka kedua tangannya, Vetra tanpa pikir panjang langsung menyambutnya dengan sebuah pelukan hangat.

“Mark.. it’s been so long.”

Angga yang melihat semua itu dari jarak dekat sangat terkejut melihatnya, detak jantungnya seakan berhenti saat melihat Vetra tanpa ragu memeluk pria jangkung yang berada di depannya ini, setengah berbisik dia bertanya pada Tetra.

“Siapa itu?”

Tetra menggelengkan kepalanya, dia sama sekali tidak tahu siapa pria tampan yang sedang dipeluk oleh kakaknya.

“Gak tau.. yang jelas orang itu pastinya sangat penting buat Kak Vetra. Selama ini selain saat pertama kali bertemu mama dulu, baru sekarang aku liat kakak meluk orang.”

Angga hanya bisa menelan ludah.

Ō Ō Ō

It’s been so loooooooong!!!!! XP

Oke, pertama-tama saya mau minta maaf soal jadwal release yang gak kunjung juga jadi rutin. saat ini masalah waktu sama masalah uang memang jadi kelemahan saya :(

kedua, cerita sebentar lagi masuk ke bagian klimaks, so, buckle up! :D

ketiga.. errr.. apa ya.. ah ya sudahlah, pokoknya terima kasih masih membaca serial ini, dan saya harap temen-temen masih betah dan enjoy bacanya, karena saya juga masih betah dan enjoy nulisnya :)

8 Tanggapan untuk [SOURCE] – #58

  1. Ida April 13, 2012 pada 12:07 AM

    Akhirnya…Excel muncul juga XD

    • ilhammenulis April 13, 2012 pada 1:15 AM

      nanti ada di chapter selanjutnya :D

  2. ichyfitri April 13, 2012 pada 12:40 AM

    aaaaaaarrrgghh Mark munculnya cuma sekilas :(
    *penasaran sama Mark* :p

    • ilhammenulis April 13, 2012 pada 1:16 AM

      sabar~ sabar~ hihihihi

  3. fikri hasbi (@respectraceure) April 16, 2012 pada 8:39 AM

    kapan lanjutanya ??

    • ilhammenulis April 16, 2012 pada 9:29 AM

      sedang dibuat :)

  4. recolzer April 20, 2012 pada 7:32 AM

    jadi.. lanjutannya manah? :3 *maksa*
    Mark-nya cuma numpang lewat doang tuh.. hahaha

    • ilhammenulis April 20, 2012 pada 7:35 AM

      mulai chapter depan puas-puasin tuh sama si bule.. hahahaha

      nanti minggu mudah2an udah selesai :)

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.532 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: