Sebelumnya : HTBLI #1: Jangan Cek Jadwal Perjalanan/Pekerjaan Kalian

Selesai dengan semua urusan imigrasi, saya langsung nyari Alwi.

Sebenarnya saya sempat panik karena nggak tau posisi dia ada di mana, sementara Changi Airport itu gedenya Naudzubillah..

Untungnya dia lebih pintar. Alwi ternyata sebelumnya mencari flight Number saya, dan dia langsung stanby di gate keluar.

Setelah bertemu, setengah berlari kami check in untuk penerbangan ke Bangkok. Saat itu waktunya benar-benar sudah mepet.

Tidak ada masalah berarti dari mulai naik pesawat sampai tiba di Bangkok.

Kami sampai di Bangkok lewat tengah malam. Dari bandara rencananya kami langsung mau mengambil bus paling pagi untuk menuju Kamboja. Kami hanya merencanakan one day trip ke Kamboja, karena hanya ingin melihat dan berjalan-jalan di Angkor Wat, setelah itu, kami akan kembali ke Bangkok.

Karena masih ada waktu, kamipun memutuskan untuk tidur terlebih dahulu di bangku bandara.*

Menjelang subuh, kami berangkat ke stasiun dengan menggunakan taksi, kemudian dilanjutkan dengan naik bus pertama menuju kamboja.

Saat itu harapan saya cukup tinggi. Berada di negara asing, menyambut sunrise, on the road pula. Sudah terbayang bagaimana indahnya pemandangan nanti.**

Perlahan matahari muncul, menyeruak menyingkap embun.. Saya dengan semangat memperhatikan jendela. Dan pemandangan setelah matahari terbit memang luar biasa ternyata.

Luar biasa sama dengan di kampung halaman.***

Yang menarik justru baru muncul saat kami memasuki perbatasan timur Thailand dengan Kamboja, yaitu kota Aranyaprathet.

Well, sudah jadi pengetahuan umum bagi para pelancong bahwa banyak scam yang terjadi di Kamboja. Banyak sekali yang sudah menjadi korban penipuan di sana, terutama pelancong bule.

Bisa dibilang kami berdua sangat beruntung, karena mendapatkan juga pengalaman dengan sempat hampir menjadi korban scammers tersebut.

Aranyaprathet sangatlah ramai. Orang hilir mudik di gerbang perbatasan, dan ada banyak barang-barang pokok yang diangkut oleh buruh datang dan pergi di sana. Terutama bahan pangan.

Di kantor imigrasi Thailand, tak banyak masalah yang terjadi. Setelah keluar, kami mengikuti jalanan setapak yang padat dengan orang-orang menuju ke imigrasi kamboja.

Beberapa meter di depan kami ada sebuah tenda, di dalamnya ada beberapa orang petugas berseragam. Ketika lewat, kami langsung disuruh untuk mendekat dan duduk. seorang petugas pria kemudian memeriksa suhu tubuh dan denyut nadi kami. Katanya sih pemeriksaan wajib, walau ujung ujungnya minta uang. (mirip di negara ini, ya..) Tapi karena jumlahnya tidak besar, dan daripada ribut, kami kasih aja.

Setelah itu petugas di sebelahnya mulai bertanya kepada kami, seraya meminjam passport kami. Dia menuliskan sesuatu di form imigrasi. Nah setelah selesai, si petugas ini juga minta uang. Katanya biaya untuk membeli form imigrasi tersebut, yang digunakan untuk masuk ke Kamboja. Jumlahnya guede banget.

kami menolak, karena ini sudah pasti scam juga seperti pemeriksaan kesehatan barusan.

Saya dan Alwi sampai adu mulut dengan petugas itu. Kami jelas nggak mau bayar, dengan alasan tak punya cukul uang. Malah kami hampir pulang lagi ke thailand.

Lalu bagai di film-film, datang seorang mas mas yang menarik kami dari sana.

Dia bilang cuekin aja petugas-petugas itu, mereka mau nipu kami. Dia membawa kami berjalan sekitar 100-200 meter dari sana, ke tempat imigrasi yang sebenarnya, sebuah ruangan kecil berkipas angin satu buah. (beda banget sama kantor imigrasi Thailand)

Baru saja bisa menghela nafas, saya tiba-tiba tersadar, tas kamera ketinggalan di tempat yang tadi sodara-sodaraaaa.

Walaupun isinya cuman DSLR Canon ecek-ecek, tapi lumayan juga kalo hilang, kan?

Saya langsung lari balik lagi ke tempat para scammers tadi, dengan harapan tasnya tidak diambil oleh mereka.

Dengan nafas hah-heh-hoh, saya sampai di tempat itu. Semua yang ada di sana bengong, bingung kenapa saya balik lagi. Saya langsung lirik sana sini, mencari tas kamera.

Untungnya tas itu masih ada di kolong meja dan belum ada yang menyadari keberadaannya.

Dengan sigap tasnya saya ambil, terdengar suara “ooooooh”. Mungkin mereka menyesal karena tidak terlebih dahulu menemukan tas tersebut.

Setelah itu saya dan Alwi akhirnya menginjakan kaki di Kamboja.

HTBLI #4: Jangan Cari Tahu Perkiraan Biaya di Tempat Tujuan Anda


*saat backpackingan, salah satu skill yang perlu dikembangkan adalah skill untuk tidur di mana saja. Ini penting untuk para pelancong kere (seperti saya).
**Lumayan untuk bahan setting novel, kan?
***Sebagai deskripsi singkatnya, saya mengutip perkataan Alwi;
“Tak ubahnya seperti pemandangan di jalan menuju ke bekasi atau karawang.”
Advertisements

2 thoughts on “HTBLI #3: Jangan Awasi Barang Bawaan Anda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s