“It” dan Pentingnya Character Development yang Menarik

it_stephenking
Sumber: https://pmcvariety.files.wordpress.com/2015/07/it_stephenking.jpg?w=670&h=377&crop=1

Pada tahun 1960, kota Derry di Maine diteror oleh sesosok monster badut bernama Pennywise yang gemar menculik dan membunuh anak-anak. Sekelompok anak memutuskan melawan dan melenyapkan badut tersebut. 30 tahun kemudian, badut itu bangkit kembali. Mereka harus kembali ke kota asalnya untuk sekali lagi, kali ini dengan tujuan melenyapkan sang badut, untuk selamanya.

Tahun 1986, Stephen King menerbitkan sebuah novel yang berjudul “It”. Novel tersebut meraih beberapa penghargaan seperti British Fantasy Award dan World Fantasy Award.

Novel kemudian diadaptasi ke layar perak menjadi sebuah mini seri pada tahun 1990. Tim Curry, yang berperan sebagai Pennywise sang badut, berakting dengan sangat baik. Sampai-sampai setelah ditayangkan, banyak penontonnya menderita coulrophobia-ketakutan berlebih terhadap badut.

Eits!

Tapi kali ini mari kita kesampingkan terlebih dahulu masalah monster badut dan coulrophobia. Karena dalam kisah “It”, ada hal menarik lainnya yang bisa kita gali. Yaitu bagaimana Stephen King dengan sangat cerdas dan apik meramu character development yang menarik pada setiap tokoh-tokohnya.

Apa itu Character Development?

Gampangnya, character development adalah bagaimana kita sebagai penulis atau pencipta tokoh, menciptakan perubahan pada karakter yang kita buat. Perubahan ini dapat meliputi berbagai aspek, seperti: penampilan, latar belakang, hubungan, sifat, ambisi, kelemahan, dll.

Kelihatan tidak terlalu rumit bukan? Sekilas memang seperti itu, tapi coba kita perhatikan beberapa tokoh dari kisah “It” yang saya jelaskan.

Oh iya, untuk kalian yang belum pernah membaca ataupun menonton film “It”, ada beberapa hal yang harus diperhatikan terlebih dahulu, agar kalian lebih gampang membayangkannya.

Pertama, “It” menggunakan alur maju dan mundur dalam rentang 30 tahun. Adegan seringkali tiba-tiba berganti dari saat tokoh mereka dewasa (42 tahun) ke saat mereka masih anak-anak (12 tahun), begitu pula sebaliknya.

Kedua, terdapat tujuh orang tokoh utama. Mereka tergabung ke dalam Loser’s Club dan masing-masing mendapatkan porsi cerita yang kurang lebih sama. Terbayang kan banyaknya tokoh yang harus dikembangkan? Film ini berdurasi tiga jam, dan hampir dua jam pertama dihabiskan untuk mengeksplor kejadian di masa lalu, ketakutan-ketakutan serta trauma yang dialami oleh para tokohnya pada saat teror Pennywise terjadi 30 tahun yang lalu.

Terakhir, sudut pandang yang digunakan dalam kisah ini adalah sudut pandang orang ketiga serba tahu. Hal ini wajar mengingat banyaknya jumlah tokoh yang terlibat dalam cerita. Dengan sudut pandang ini, penulisnya bisa dengan leluasa menggambarkan apa yang dialami oleh masing-masing tokoh dengan netral dan melompat dari satu karakter ke karakter yang lain dalam satu adegan. Sehingga kita sebagai pembaca dapat merasakan dengan jelas bagaimana setiap karakter di dalam kisah itu berbeda satu sama lain dan bagaimana waktu 30 tahun mengubah kepribadian mereka.

Nah, kembali lagi ke masalah chacarter development. Dari ketujuh orang tokoh utama tersebut, ada beberapa karakter yang menurut saya memiliki pengembangan karakter paling bagus.

  1. Dia adalah satu-satunya perempuan dalam kelompok tersebut. Bev kecil tinggal berdua dengan ayahnya yang juga adalah seorang petugas kebersihan di sekolahnya. Dia seringkali dihina karena pekerjaan ayahnya tersebut.

Hubungan Bev dengan ayahnya sangatlah menarik. Di satu sisi, Bev membenci ayahnya. Pria itu tidak segan menyiksanya ketika dia membuat kesalahan. Ayahnya seringkali mencopot sabuknya dan memecut Bev saat dia dianggap berulah. Tapi di sisi lain, Ayahnya adalah satu-satunya tempat dia berlindung. Ketika Pennywise pertama kali meneror Bev, ayahnya lah yang pertama kali dia panggil untuk menolong. Pun pada saat dia hendak dilecehkan oleh kelompok berandalan sekolah, ayahnya yang datang untuk menyelamatkannya.

Bev dewasa tinggal di Chicago, menjadi seorang fashion designer sukses dan menikah dengan Tom, atasannya. Yang menarik adalah, Tom memiliki sifat yang sangat mirip dengan ayahnya; kasar, dominan, dan sering menyiksanya. Dalam sebuah percakapan Bev berkata bahwa dia membenci dirinya sendiri, karena ternyata setelah semua perlakuan buruk yang dia dapat dari ayahnya, dan setelah dia pindah dan memutuskan untuk melupakan masa lalunya yang kelam, dia malah jatuh cinta dengan orang-orang yang mirip dengan ayahnya.

  1. Dia diceritakan sebagai seorang anak yang dianggap sebagai pecundang di lingkungannya. Dia sering menjadi korban bullying karena gagap. Bill adalah orang yang paling memiliki determinasi untuk melenyapkan Pennywise karena adiknya sudah menjadi korban badut tersebut. Setelah mereka mengalahkan Pennywise, Bill adalah orang yang membuat teman-temannya bersumpah bahwa jika suatu saat badut itu kembali, mereka semua harus pulang ke kota ini untuk mengalahkannya lagi.

Bill dewasa adalah seorang penulis novel horor sukses. Dia pindah ke Eropa untuk menggarap skenario film. Dia sudah menikah dengan seorang aktris cantik yang membintangi film yang dia tulis. Bill sudah lama melatih dirinya agar tidak lagi gagap dalam berbicara. Namun ketika dia mendapatkan kabar bahwa Pennywise bangkit kembali, ingatannya kembali dan ini ditandai dengan gagapnya yang sudah hilang selama puluhan tahun kambuh kembali.

  1. Walaupun termasuk tidak terlalu signifikan perannya, dia merupakan tokoh yang paling signifikan perkembangan karakternya. Stan diceritakan sebagai seorang boy scout-Pramuka. Dia tampan, cerdas, logis, teratur, serta skeptis. Dia tidak percaya hal-hal yang berbau mistis, karena itulah Pennywise memilihnya sebagai sasaran terakhir, agar mentalnya dilemahkan terlebih dahulu oleh ketakutan dari orang-orang di sekitarnya. Stan adalah satu dari dua orang anak yang melihat wujud asli dari Pennywise. Anak lain yang melihat wujud tersebut rambutnya berubah seketika menjadi putih, dan harus dirawat di rumah sakit jiwa, sementara Stan selamat dan tidak mengalami perubahan apa-apa.

Stan dewasa bekerja sebagai seorang akuntan dan menikah dengan seorang guru. Dia memiliki kehidupan yang sangat normal dan bahagia. Paling normal diantara keenam temannya yang lain. Namun ketika dia mendengar kabar bahwa Pennywise kembali, dan diminta untuk memenuhi sumpahnya 30 tahun yang lalu, Stan lebih memilih untuk bunuh diri dengan cara menyayat pergelangan tangannya di kamar mandi daripada harus berhadapan lagi dengan Pennywise.

Walaupun empat tokoh lainnya memiliki kisah yang tidak kalah menarik, namun rasanya ketiga tokoh ini dapat mewakili poin yang akan saya sampaikan.

Jadi, menurut kalian apa yang bisa kita ambil dari ketiga tokoh tersebut?

Yup! Karakter, perasaan, trauma yang mereka alami pada saat kecil, terus terbawa sampai mereka dewasa. Stephen King tidak hanya membuat latar bagi tokoh-tokoh ciptaannya, tapi juga dengan apik menghubungkan hal itu dengan karakter mereka 30 tahun kemudian.

Loh? Tapi bukannya Character Development berarti tokoh yang kita ciptakan berubah dan berkembang seiring dengan jalan cerita? Kok di contoh di atas sepertinya sifat mereka masih sama?

Inilah yang menarik dan tricky dalam character development. Jawaban dari pertanyaan itu saya temukan ketika kembali membuka buku yang selama ini menjadi pegangan saya dalam membuat karakter, terutama karakter dalam novel. Yaitu buku Mencipta Sosok Fiktif karya Orson Scott Card (2005).

Dalam fiksi, ada dua alat yang bisa digunakan dalam membuat kisah. Yang pertama adalah plot driver, dimana cerita berkembang karena adanya kejadian demi kejadian yang menimpa tokoh utama. Dan yang kedua adalah character driver, dimana cerita berkembang karena para tokohnya juga berkembang.

Orson dalam karyanya sangat menekankan pentingnya character driver. Dia menulis bagaimana pentingnya membuat tokoh yang bisa menjadi inti dari pengembangan cerita. Pada bab 12, dia menjelaskan bahwa:

Salah satu tema umum dalam fiksi adalah bahwa sifat mendasar manusia tidak berubah, sebesar apa pun keinginan anda agar orang itu berubah. 

Jadi walaupun seorang tokoh berubah atau terlihat berubah, sifat dasar mereka bisa jadi tetap sama. Dia kemudian membagi lagi tema umum ini menjadi tiga jenis:

  1. Kisah mengenai seseorang yang tokohnya tidak berubah dari awal sampai akhir. Orang-orang ini berjuang dengan gigih sesuai dengan takdir mereka dan sesuai dengan pandangan mereka terhadap dunia. Contoh: Seri Harry Potter dan sebagian besar tokoh dalam trilogi The Lord of The Rings. Contoh yang lebih ringan bisa kita temukan dalam sebagian besar manga bertema petualangan, seperti One Piece, Naruto, Dragon Ball, dan sebagainya.
  2. Kisah mengenai seseorang yang tampak berubah, namun pada akhirnya diketahui bahwa mereka sama sekali tidak berubah. Mereka hanya berpura-pura berubah ataupun orang lain memiliki pandangan yang salah terhadap mereka. Contoh: Macbeth karya Shakespeare serta Oedipus Rex karya Sophocles. Stephen King dalam Novel “It” juga menggunakan jenis ini.
  3. Kisah mengenai orang yang berusaha untuk berubah, namun pada akhirnya mereka menyadari bahwa sifat asli merekalah yang lebih baik. Contoh: Kisah-kisah Teenlit pada umumnya dengan pesan moral sejenis, “tidak usah berusaha menjadi orang lain, orang-orang mencintaimu apa adanya.”

Hal lain yang perlu digarisbawahi adalah hal tersebut hanya salah satu dari tema umum dalam fiksi. Ini bukan berarti di dunia nyata manusia tidak dapat berubah.

Di dalam bagian selanjutnya, Orson menjelaskan dua tema umum fiksi lainnya yaitu Tokoh yang berubah karena pengaruh dari luar, serta Tokoh yang berubah karena keinginan sendiri.

Kedua hal tersebut akan dibahas dalam artikel beriktunya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s