Sebelumnya: HTBLI #3: Jangan Awasi Barang Bawaan Anda

Kisah tentang scam di Kamboja masih berlanjut. Inget mas-mas penyelamat yang saya bahas di bab sebelumnya? Kami kira urusan kami dengan mas-mas itu udah selesai. Ternyata doi nungguin kami di luar bangunan imigrasi.

Doi bilang kalau dia adalah guide resmi, dan kerjaannya emang ngebantu-bantuin turis yang baru masuk. Tapi.. rasanya kok mencurigakan ya?

Jadi setelah keluar dari kantor imigrasi Kamboja, mas-mas itu mengarahkan kami (dan seorang bule) untuk naik ke sebuah bis. Kami bilang kalau kami ingin lihat-lihat perbatasan saja, nggak mau ke kota lain. Terus dia nyecer kami emang mau ke mana? naik apa? dll. Akhirnya kami bilang kalau kami mau ke Angkor Watt. and again, dia mengarahkan kami untuk naik bis tersebut. Gratis, katanya.

Kamipun akhirnya memutuskan untuk naik, toh gratis ini, kan? Sepanjang perjalanan kami mengobrol dengan si mas-mas guide. Katanya untuk mencapai Angkot Watt, kami bisa menggunakan taksi dari tujuan akhir bis ini nanti.

Kurang lebih setengah jam kemudian, kami tiba di suatu terminal. Di sana ada beberapa rombongan bule yang sudah terlebih dahulu sampai. begitu turun, kami langsung melipir, masuk ke toilet. Tujuannya agar tidak diikuti terus oleh si mas-mas guide.

Di dalam toilet, sambil cuci muka yang udah kucel karena perjalanan jauh, kami berdiskusi tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya. Sengaja agak lama, biar si mas-mas tadi pergi. Rencana perjalanan yang kami susun tidak mendetail mengenai bagaimana cara menuju ke Angkor Wat. Hanya sebatas ke kota Aran.

Akhirnya kami memutuskan untuk wait and see. Melihat bagaimana turis lain bertindak. Malang, ketika kami keluar, semua turis yang sebelumnya ada di sana sudah berangkat, dan si mas-mas guide dengan sabar masih nongkrong di depan toilet, menunggu kami.

Dia kemudian mengantar kami ke sekumpulan sopir taksi yang bisa kami sewa. Namun ketika kami tanya harganya, buset, muahal beneeeer. dan itu belum termasuk tiket masuk ke Angkor Wat, dan perjalanan kembali ke tempat ini. Sebenarnya kalau dibagi lebih dari dua orang bisa jadi lebih murah. Sayangnya di tempat itu sudah tidak ada siapa-siapa.

Saya mencolek Alwi, ini udah jauh di luar budget yang ditetapkan, dan kami tidak membawa uang sebanyak itu. Kami kemudian mengatakan hal itu kepada mereka. Mereka pikir itu adalah langkah kami dalam tawar menawar, sehingga akhirnya mereka menurunkan harga. (Padahal emang kere.) Kami tetap menolak, dengan alasan uang yang kami bawa tak sebanyak itu.*

Akhirnya kami kembali ke perbatasan. Bete sih sebenarnya, karena sudah sengaja ambil bis jam tiga pagi, terus sampai di tempat ini sekitar jam sepuluh, tapi harus kembali dengan tangan hampa.

Fun Fact: Untuk keluar dari Thailand dan masuk ke Kamboja, sangatlah mudah. imigrasi Thailand tidak bertanya macam-macam, tapi ketika masuk ke Thailand dari Kamboja, beeuh, jauh lebih ketat. Saya sampai dituduh pergi ke Kamboja hanya untuk sekadar main ke kasinonya. (dan menurut mas-mas guide, memang banyak kasus seperti itu, karena perjudian di Thailand dilarang. Jadilah yang mau berjudi pergi ke Kamboja)

Setelah kembali ke perbatasan, kami berterima kasih dan pamit kepada si mas-mas. Tadinya kami udah bisik-bisik mau ngasih tip buat masnya, eeeh, belum sempat kami kasih dia udah minta duluan. Ternyata benar kan, UUD (Ujung-Ujungnya Duit).

Tadinya kami hendak menunggu bus yang sama dengan kedatangan kami tadi. Tapi sebagai saran terakhir, mas-mas itu ngasih tau kalau pakai mobil lebih cepat sampai, dan diantar sampai ke tujuan kami selanjurnya di Bangkok, yaitu Khao San Road.

Dan seperti monyet bego yang nggak pernah kapok ketipu, kami menuruti sarannya.

Kami kemudian diangkut dengan sebuah mobil pick up, menuju ke tempat travel. tempat mobil travel itu ternyata adalah sebuah rumah makan, jadi kami setengah terpaksa harus makan dulu. yang paling parah adalah, mobil yang dijanjikan datangnya baru satu dua jam kemudian, dan dalam keadaan penuh sesak. membuat kami terlambat sampai di Bangkok, dan harus menyusun ulang jadwal kami.

Selanjutnya: [HTBLI] #5: Jangan Ragu Gunakan Informasi dari Buku yang sudah kadaluarsa


*Sebenarnya mereka bilang kami bisa menggunakan ATM, selama berlogo visa / mastercard. tapi saat itu kami belum tahu, kami kira hanya credit card yang bisa, belakangan kami tahu ternyata menarik uang dengan debit card pun bisa selama sama-sama visa / mastercard.
Advertisements

2 thoughts on “HTBLI #4: Jangan Cari Tahu Perkiraan Biaya di Tempat Tujuan Anda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s