Stasiun Televisi kabel CBS dulu pernah merilis sebuah serial yang berjudul How I Met Your Mother. Serial tersebut dimulai dengan adegan seorang narator yang bercerita kepada dua anaknya tentang bagaimana dia bertemu dengan ibu mereka. Cerita itu berlangsung selama sembilan musim (2005-2014). Dan pertemuan Ted Mosby dengan perempuan yang kelak akan menjadi ibu dari kedua anaknya baru ada di episode terakhir. Benar-benar sebuah pencarian yang sangat panjang.

Well, this is a story about how I met your mother, Niskala.

Mei 2015, ayah bersama seorang teman pergi ke Jalan Braga, Bandung. Di sana sedang berlangsung event pameran komik dan talkshow buku anak. Kebetulan saat itu salah seorang sahabat ayah lainnya; seorang penulis, editor kondang, mentor dan sesepuh ayah (ya, kau juga pasti kenal orang itu), yaitu Oom Noor. H. Dee, mengisi acara di sana.

Setelah bertemu, kami memutuskan untuk melanjutkan obrolan sambil makan siang.

Di sana, di sela obrolan tentang isu-isu di dunia penerbitan dan kepenulisan, serta obrolan tentang perkembangan media sosial sipenulis, ayah banyak bercerita tentang problematika asmara yang baru saja ayah hadapi kala itu, gagal menikah. Hal pahit yang semoga engkau kelak tidak pernah mengalaminya, ka.

Layaknya seorang sesepuh teladan, dia mendengarkan cerita ayah sambil sesekali tertawa meledek. Akhirnya, sambil tersenyum dia berkata:

“Udah, elu sama Noury aja, ham. Kalian cocok.”

It came out of nowhere.

Sebenarnya bagi kami berdua (dan bagi sebagian pengguna sipenulis lainnya), nama ibumu sudah cukup familiar. Semenjak Sipenulis diluncurkan tahun 2013, ibumu adalah salah satu pengguna yang paling aktif menulis di sana. Dia juga pernah dua kali memenangkan lomba menulis yang diadakan oleh Sipenulis.

Walaupun begitu, saat itu kami berdua tidak pernah satu kalipun berinteraksi. Kesempatan untuk berinteraksi datang pada bulan April 2015, ketika Sipenulis membuat sebuah project. Ayah bertugas untuk mengumpulkan kutipan-kutipan dari para pengguna aktif sipenulis.

2.PNG
Chat pertama kami.

Chat tertanggal 2 April 2015 itu baru dibalas oleh ibumu pada tanggal 10. Mungkin saat itu dia ragu karena ada orang aneh tidak dikenal yang mengajaknya chatting.

11130501_799675226787906_944640862279499119_o
Di foto ini, ibumu terlihat sangat kalem, nak.

Setelah chat pertama tersebut, kami memang pernah beberapa kali chatting lagi, tapi itupun hanya sekadar bertukar cerita tentang dia yang menyukai cerpen-cerpen oom Hadi dan kesamaan hobi kami dalam menonton film-film buatan Hayao Miyazaki dan Makoto Shinkai.

Akan tetapi pada hari itu, setelah obrolan dengan oom Hadi, ayah mulai memikirkan dengan serius perkataannya tersebut.

Jujur saja, ayah memang mengagumi tulisan-tulisan ibumu. Tulisan-tulisannya seperti aliran sungai, alami, serta mengalir dengan lancar dan indah. Tak seperti tulisan ayah yang kadang mengawang dan melulu tentang manusia yang sakit jiwa, tema tulisan ibumu membumi, menelisik kehidupan dan keseharian manusia. Singkatnya, dia keren!

Tapi mungkin ada yang lebih dalam daripada itu. Mungkin takdir sedang bermain dengan kami. Bukan sebuah kebetulan bahwa awal perkenalan kami terjadi beberapa bulan setelah ayah gagal menikah, namun masih di dalam tahun yang sama. Seakan menandakan bahwa ayah masih punya waktu untuk menggapai cita-cita ayah sejak lama, yaitu menikah di usia 25 tahun.

Ayah saat itu belum benar-benar yakin, tapi sudah berharap. Masalah sebenarnya adalah, apakah ibumu mau? Ayah tidak ingin bermimpi terlalu jauh, terlanjur membayangkan dan menyusun rencana di dalam kepala, namun ternyata tujuan kami tidak sejalan.

Karena itulah, ayah memutuskan untuk sedikit memperdalam pembicaraan-pembicaraan di chat kami. Kenapa tidak bertemu langsung saja? Mungkin kamu bertanya. Karena saat itu, nak. Ayah bekerja di Tanjungpinang, dan Ibumu di Jakarta. Sedikit sulit untuk bertemu langsung.

Namun takdir kembali mempermudah semuanya. Kesempatan untuk bertemu datang lebih cepat dari yang diduga. Tanggal 21 Juli 2015, beberapa hari setelah lebaran. Saat ayah masih berada di Bandung karena cuti lebaran, ibumu ternyata ada rencana untuk pergi jalan-jalan ke Bandung. Setelah dia mengatakan itu, kami bersepakat untuk bertemu di Stasiun Bandung.

Sekitar jam sembilan pagi, ayah sudah stanby di pintu gerbang utara stasiun kereta. Mengenakan kaos dan celana pendek, sambil menenteng tas kamera. Ayah berdiri, menunggu. Menunggu seorang perempuan yang entah bagaimana rupa dan suaranya di dunia nyata. Sebelumnya ayah memang telah melihat foto-foto ibumu di facebooktapi ayah tetap saja tidak yakin.

Saat memperhatikan kerumunan orang yang keluar dari gerbang, kedua mata ayah menangkap sesosok perempuan kurus berkulit putih, dengan wajah berbintik merah. Dia mengenakan jaket merah muda dan tas ransel yang ukurannya sedikit kebesaran. Ekspresi wajahnya terlihat cemas. Ayah baru yakin bahwa itu benar ibumu ketika dia melambaikan tangan sambil tersenyum lebar.

IMG_1408.JPG
Dulu hanya berani foto dari belakang.. :”

Hari itu ayah membawanya sarapan bubur di jalan braga, karena katanya dia belum sarapan. Setelah itu kami berjalan-jalan di seputaran braga, hingga memutar dan berhenti di Alun-alun masjid agung. Ibumu dengan antusias membaca dan memperhatikan monumen serta memorabilia Konferensi Asia Afrika yang baru saja berlangsung. Katanya dia memang sangat menyukai sejarah, karena sejak kecil sering diajak oleh kakaknya bermain ke museum.

Setelah itu kami membeli cendol Elizabeth. Tadinya ayah ingin mengajak ibumu berwisata museum juga. Tapi ternyata hari itu semua museum masih tutup. Jadilah ayah mengajaknya ke Balai Kota, untuk makan siang di Bandoengsche Melk Centrale. 

Selepas Dzuhur kami berjalan-jalan di Taman Balai Kota, sembari membicarakan tentang masa lalu, dan sedikit tentang masa depan. Sore harinya, kami membeli seporsi lumpia basah dan segelas yoghurt cisangkuy, sambil menanti petang di Taman Lansia.

Ibumu baru kembali ke Jakarta pukul sembilan malam. Pokoknya ayah benar-benar memaksimalkan satu hari itu untuk mengenal ibumu lebih dalam. Ayah beritahu satu hal, Kamu bisa merasa mengenal seseorang hanya dari apa yang dia tulis, tapi ada banyak hal yang baru akan engkau ketahui saat bertatap muka, dan berbicara dengan saling menatap mata. Terlebih lagi bagi kami, mungkin setelah hari itu tidak banyak lagi kesempatan kami untuk bertemu.

24 Juli 2015, ayah menelponnya. Langsung mengutarakan niat ayah untuk meminangnya. Ayah juga memintanya untuk menunggu hingga ayah masuk ke D4 dan kembali ke Jakarta, agar urusan lamaran dan pernikahan bisa lebih gampang diselesaikan.

Alhamdulillah, ternyata gayung bersambut. Ibumu bersedia.

Hari-hari setelahnya terasa sangat cepat berlalu, potongan adegan-adegan bagaikan siluet yang kita lihat dari balik jendela kereta. Kembali sama seperti episode terakhir serial How I Met Your Mother. September 2015 Ayah lolos seleksi D4 dan kembali ke Jakarta. 24 Oktober 2015 Ayah pergi ke Bogor untuk meminang ibumu. 24 Desember 2015, kami melangsungkan akad pernikahan di Bogor. 28 Februari 2016, Resepsi pernikahan diadakan di Bandung.

01 Oktober 2016 pukul 08.00 WIB, engkau, Niskala Fajar Kancana, lahir.

Beberapa malam yang lalu, saya dan istri berbincang-bincang. Kami membicarakan saya yang menurut dia sudah banyak berubah. Saya tak pernah lagi banyak menulisan apa-apa yang saya rasakan di blog, tidak seterbuka dan sefrontal dulu. Saya menyadarinya sebagai sebuah kode, yang jika diterjemahkan isinya seperti ini:

“kok, soal patah hati dan cinta-cinta yang lalu ditulis di blog, tapi cinta yang sekarang dan selamanya nggak?”

Jadi, inilah dia.

Iklan

10 pemikiran pada “How I Met Your Mother, Niskala

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s