Kimy sedang menulis di atas meja belajar ketika dia menyadari bahwa ada keanehan di dalam kamar tidurnya.

Dinding kamarnya yang semula berwarna pink perlahan berubah menjadi jingga. Poster-poster artis idola yang sebelumnya menempel di dinding robek terkoyak oleh sulur-sulur berduri tanaman rambat dengan daun berwarna biru dan ungu.

Kimy menggosok matanya, memastikan bahwa dia tidak sedang bermimpi. Di mana ini?

Pandangannya kemudia beralih ke tempat tidur. Kasur kecil miliknya perlahan tenggelam ke dalam sebuah kolam berbentuk lingkaran yang dipenuhi oleh cairan kental berwarna kuning kecokelatan.

Kimy segera melompat dari kursi tempat duduknya, seraya berlari ke arah pintu kamar. Dia sampai di ujung ruangan, namun di tempat yang seharusnya terdapat pintu keluar kini hanya terdapat dinding bersulur tanaman berduri. Dengan panik dia meraba-raba dinding berduri itu, mencari kenop pintu.

Kimy berteriak memanggil ibunya, tapi tak ada suara yang keluar dari dalam mulutnya. Dia kemudian mencoba menggedor dinding kamar, namun ternyata sama saja, tak ada suara apapun yang keluar.

Dia kemudian berlari ke seberang ruangan, ke arah jendela yang menghadap ke halaman depan rumah. Walaupun kamarnya berada di lantai dua, jika hati-hati dia bisa turun dengan berpegangan kepada pipa saluran air.

Kimy memandang keluar. Tapi pemandangan di luar sana sama sekali berbeda dengan pemandangan kompleks perumahan yang biasanya dia lihat. Langit di luar sangat suram, sama sekali tak terlihat ada cahaya matahari. Awan kelabu tebal bergulung-gulung sepanjang penglihatnnya, saling melilit dan meliuk, serupa ratusan ular raksasa yang sedang berkumpul. Sesekali dari balik gulungan tebal itu terlihat kilat menyambar, disusul dengan suara halilintar yang menggema di kejauhan. Di bawahnya, kabut berwarna kelabu menutupi jalanan, menghalangi pandangannya.

Dia mencoba membuka jendela, rasanya berat sekali, seperti ada tekanan yang mendorong balik jendela itu agar tak terbuka. Kimy menambah tenaganya. Jendela itu terhempas, hembusan angin kencang menerobos masuk, disusul oleh Kabut tebal yang perlahan merembes masuk.

Kimy tiba-tiba merasa udara di sekitarnya semakin pengap. Karena takut kabut itu beracun, sambil menutup hidung dia menutup kembali jendela kamar.

Tak ada jalan lain lagi, dia terjebak di dalam kamar itu.

Kamarnya kini sudah tak bisa dikenali lagi, meja dan lemari masih berada di tempatnya, namun dengan bentuk yang sama sekali berbeda dengan miliknya. Walaupun begitu, dia masih merasa bahwa dia tidak pindah ke tempat lain. Ini memang benar kamarnya, namun entah mengapa semua jadi terlihat sangat berbeda.

Dia terduduk lesu, memeluk kedua lututnya sambil memikirkan apa yang harus dia lakukan untuk bisa keluar dari tempat ini dan kembali ke kamarnya.

Tiba-tiba dari dalam kolam muncul gelembung. Mulanya hanya satu dua gelembung, namun semakin lama semakin banyak. Air di dalam kolam itu juga mulai meluap, muncul desisan dan kepulan asap saat cairan dari dalam kolam itu menyentuh lantai kamar.

Kimy bangkit dan berlari sejauh mungkin dari cairan itu. Dia menempelkan punggungnya pada dinding kamar.

Kemudian dari dalam kolam itu kemudian muncul sepasang tentakel panjang berwarna merah kehitaman. Kimmy terkesiap, tak sanggup untuk bernapas.

Dia melihat ke sekelilingnya lagi, mencari-cari perlindungan.

Matanya kemudian tertuju pada tempat yang seharusnya adalah lemari pakaiannya. Kini di tempat itu hanya ada serupa rak kayu yang ditutupi oleh kain berwarna hitam.

Dia merayap di sepanjang dinding kamar, mencoba untuk bersembunyi di balik kain itu sebelum si pemilik tentakel muncul dari dalam kolam.

Tepat setelah Kimy bersembunyi di balik kain hitam sesosok makhluk berwarna merah merangkak naik dari dalam kolam. Kimy mengintip dari celah kain, dia sangat takut sekaligus jijik melihat pemandangan yang ada di depannya.

Makhluk itu hanya berupa gumpalan-gumpalan daging dengan beberapa tentakel menempel di tubuhnya. Tentakel itu terus bergerak-gerak, melingkar, serta memanjang dan memendek. Kimy melihat ada tiga pasang mata berukuran kecil berada di bagian depan makhluk itu, bersama dengan serupa lubang yang penuh dengan gerigi tajam. Dari dalam lubang itu menetes cairan kental berwara bening.

Monster.

Kimy terisak, tubuhnya mulai bergetar karena ketakutan. Walaupun dia tahu bahwa dia tak bisa mengeluarkan suara apa-apa, namun dia tetap menutupi mulutnya dengan kedua tangan.

Monster itu merayap ke bagian tengah ruangan, gumpalan yang ditempati oleh tiga pasang mata bergerak memutar, seperti sedang mencari-cari sesuatu. Setelah beberapa saat, monster itu mulai menggeram. Tentakel yang berada di seluruh bagian tubuhnya memanjang, berkeliaran ke seisi ruangan. Bola mata kecil bermunculan dari permukaan tentakel, bergerak kesana-kemari.

Salah satu tentakel mendekat ke arah persembunyian Kimmy. Tentakel itu perlahan menyibak kain hitam yang menjadi tempat persembunyian Kimy. Sepasang bola mata muncul di ujung tentakel.

Kimy sudah tidak tahu harus bagaimana. Jadi dia hanya duduk sambil terus terisak.

Kedua mata yang berada di tentakel itu menatap ke arahnya. Kimy memberanikan diri mendongkak, selama sepersekian detik tatapan keduanya beradu.

Kemudian terdengar raungan yang sangat keras. Monster itu seketika menarik semua tentakelnya kembali ke dalam tubuhnya.

Monster itu kembali meraung. Ini semua sangat aneh, walaupun makhluk itu hanya meraung, tapi Kimy sepertinya mengerti apa arti raungannya. Dia terus meraung, semakin lama semakin keras. Raungannya memenuhi seisi ruangan, dan memekakkan telingan Kimy.

Tiba-tiba seisi ruangan bergetar. Gelembung silih berganti meletup di pemukaan kolam. Dari dalam kolam muncul dua tentakel berwarna hitam yang ukurannya jauh lebih besar. Perlahan, sebentuk gumpalan raksasa keluar dari dalam kolam. Monster kedua ini sangat besar, memehuni hampir sepertiga bagian kamar.

Monster itu menggeram pelan kepada monster yang lebih kecil.

Kimy semakin ketakutan, badannya bergetar hebat. Namun dia tidak bisa menghilangkan pikiran bahwa dia bisa mengerti apa yang kedua monster itu sedang bicarakan.

Dia tahu bahwa keduanya tengah bercakap-cakap.

“Hrrrrrrr…..ada apa?….” tanya si monster besar.

Monster kecil mengeluarkan tentakelnya, dan menunjuk ke arah Kimy. “Ibu, ada manusia di dalam lemariku!”

Monster besar mengeluarkan tentakelnya. Kimy merangkak dan bersembunyi di sudut lemari, berharap monster besar itu tak bisa melihatnya.

Tentakel besar berwarna hitam membuka tirai tempat persembunyian Kimy, membuatnya terlihat jelas tanpa perlindungan apapun. Kimy telungkup sambil memeluk lututnya.

“Mana? Tidak ada apa-apa?”

“Apa kau tak bisa melihatnya, mama?”

“Jangan berbohong.”

“Aku sungguh-sungguh melihat manusia di dalam lemariku, Ma!”

“Hus! Manusia itu hanyalah cerita dongeng saja, agar kalian tidak bersikap nakal. Ayo sekarang cepat tidur!”

***

4 thoughts on “[Cerpen] Dimensi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s