Ingatan manusia adalah hal yang luar biasa. Terkadang saat kita menyaksikan suatu hal yang luar biasa, kita berjanji dalam hati bahwa kita tak akan pernah melupakan hal tersebut. Namun toh kita lupa juga. Hingga suatu hari, tiba-tiba memori tentang hal tersebut muncul, membuncah tak terbendung bak erupsi gunung berapi yang kita kira telah mati.

Kitapun hanya bisa menggerutu,

kampret, bisa-bisanya hal sekeren ini gue lupain..

Ingatan tentang cerita ini adalah salah satu contohnya.

Tahun 2013 merupakan tahun yang ajaib bagi saya. Segera setelah diangkat menjadi PNS, saya ditempatkan di Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau. baru beberapa minggu di sana saya ditempatkan kembali di Kantor Pelayanan dan Penyuluhan yang terletak Kota Ranai, Kabupaten Kepulauan Natuna. Tempat yang mungkin hanya bisa saya impikan untuk datangi jika bukan karena pekerjaan sebagai PNS.

Kota Ranai terletak di Pulau Bunguran, sebuah pulau yang terletak di ujung utara Indonesia, di tengah-tengah Laut Tiongkok Selatan, dan berbatasan langsung dengan Negara Vietnam.

Bagi kalian yang masih meraba-raba di mana tepatnya lokasi pulau itu, bisa cek di peta di bawah ini (dilingkari merah)

Peta Indonesia
sumber

Kota Ranai sangat sepi. Yah, sebenarnya wajar saja mengingat jumlah penduduk di Pulau Bunguran hanya sekitar 20.000 jiwa, dan tersebar di seluruh bagian pulau. Hampir semua penduduk lokal di satu desa mengenal satu sama lainnya, pun ketika ada pendatang baru seperti saya, langsung dapat diketahui oleh mereka.

Saking sepi dan sedikitnya penduduk, lama-lama kita bisa hafal siapa saja pemilik mobil yang ada di Kota Ranai. Contohnya, jika ada mobil berwarna biru lewat, bisa dipastikan jika tidak mobil Terios milik kantor kami, mobil itu adalah mobil Rush milik Pemkab Natuna. Karena kala itu hanya ada dua mobil yang berwarna biru di Kota Ranai.

IMG_0808.JPG
you can almost hear the sound of silence

Untuk orang seperti saya yang bisa tahan berdiam lama di dalam kamar selama ada games, film, dan koneksi internet, tinggal di tempat sepi dan minim interaksi seperti ini sama sekali bukan masalah. Pun kala itu saya masih belum berkeluarga, sehingga tak ada beban “kangen” seperti yang dialami oleh para pendatang lain yang tidak membawa serta keluarga mereka.

Bagi Grace, rekan kerja saya, sepi rupanya adalah siksaan yang amat berat. Untuk sekadar mengusir sepi, setiap sore dia memainkan electone di dalam kamarnya, di lain kesempatan dia sering terlihat bernyanyi sambil memainkan gitar di ruang tengah atau di balkon sampai hampir tengah malam.

Selain bermain musik, cara lain yang dia lakukan untuk mengusir sepi adalah dengan bertualang. Semenjak ditempatkan di Pulau Bunguran, setiap akhir pekan dia sangat rajin mengajak saya bertualang ke sekeliling pulau.

Alif Stone, Ceruk, Pengadah, Pulau Sedanau, Pulau Tiga, Selat Lampa, Pulau Senoa, Tanjung Datuk, Tanjung Senumbing, serta sederet tempat dengan nama-nama yang tak familiar didengar telah kami datangi. Masing-masing tempat tersebut memiliki kisah unik dan seru untuk diceritakan, namun, ada satu tempat yang benar-benar membuat saya merasa sangat kerdil. Kami tak tahu persisnya nama tempat tersebut, namun kami meyakini bahwa tempat tersebut ada di sekitar Teluk Buton.

Suatu hari, seperti biasa Grace mengajak saya untuk bertualang. Dia berkata bahwa kali ini dia ingin tahu apa yang ada di ujung aspal. Jalanan aspal pulau Bunguran membentang dari ujung utara pulau hingga ke ujung selatan pulau. Kami sudah beberapa kali mengunjungi ujung selatan, yaitu Selat Lampa, jadi kali ini dia ingin mengunjungi ujung utara, yaitu Tanjung Datuk dan Teluk Buton.

Kami mulai berkendara pagi hari, melewati jalanan aspal yang sangat mulus dan sepi. pada beberapa bagian, kami tetap harus melewati jalanan tanah yang bergelombang, serta jembatan kayu yang kondisinya cukup membuat deg-degan saat dilewati oleh mobil. Di beberapa tempat berupa rawa, kami sengaja memperlambat laju mobil karena konon sering terlihat buaya, dan kami ingin melihatnya.

Sekitar pukul sepuluh pagi, kami tiba di ujung aspal. Benar-benar ujungnya, karena jalanan di hadapan kami setelahnya hanya berupa tanah dan lumpur yang belum diratakan, serta hutan belantara. Kendaraan kami tak bisa maju lebih jauh dari ini.

Kami menepikan mobil, kemudian turun. Tak yakin harus merasa bagaimana. setengah bahagia karena bisa melihat ujung dari jalanan di pulau ini, namun juga setengah kecewa karena ternyata ya hanya begitu saja. Tak seperti kisah kendi-kendi emas yang berada di ujung pelangi.

Setelah beberapa menit, kami kembali naik ke dalam mobil. Grace kemudian memundurkan mobil sejauh beberapa puluh meter. Dia terus melihat ke sekelilingnya, mencari-cari jalan lain yang bisa dimasuki. Rasanya sayang sudah menempuh waktu berjam-jam perjalanan hanya untuk melihat hal seperti ini saja.

Kemudian di antara semak belukar, Grace melihat ada jalanan kecil yang cukup untuk dilalui oleh mobil. Jalan tersebut tidak beraspal, dan sepertinya mengarah ke pantai. dia memutar mobil dan masuk ke jalan tersebut.

Kami harus berkendara dengan sangat pelan karena jalanannya sangat sempit dan bergelombang. di kanan-kiri mobil rapat oleh semak belukar. Beberapa kali kami sempat ingin menyerah karena medannya semakin sulit, tapi tak ada tempat untuk memutar balik mobil, sehingga kami tak punya pilihan lain selain terus maju.

Kami terus berkendara selama kurang lebih lima belas menit. ada beberapa rumah dan ladang yang kami lewati, namun tak ada seorang pendudukpun terlihat. Daerah itu sunyi senyap.

Jalanan itu semakin menyempit, hingga akhirnya kami tak bisa maju lagi. Saat itu kami berada di antara semak belukar. Kami turun, lalu melihat ke sekeliling. di balik semak belukar terlihat pasir putih, kami ternyata berada di dekat pantai. Kami kemudian berjalan untuk melihat pantai di tempat itu.

Kami menemukan pantai tersebut, dan tempat itu sama sekali lain dengan semua pantai yang pernah kami lihat.

Pantai itu sangat landai, sejauh mata memandang hanya ada pasir putih yang digenangi air setinggi betis. Di ujung sana, di dekat cakrawala, terlihat garis biru air laut, dengan gelombang tenang yang sesekali menerpa pantai, dan di atas kami, langit mendung dengan warna yang tak pernah kami lihat sebelumnya.

Tak ada suara lain selain deru angin yang terdengar, tak ada manusia, tak ada kicau burung, tak ada suara serangga, bahkan deru ombakpun tak terdengar. Kami seakan sedang berada dalam alam lain, alam yang terlepas dari genggaman waktu, dan membeku.

Kami tak sanggup berkata-kata. Dalam diam kami mulai menelusuri tempat itu, dan mengabadikannya dengan kamera. Sungguh, berada di tempat itu bagaikan sebuah pengalaman spiritual yang tak pernah kami dapati sebelumnya. Pengalaman yang mengerdilkan manusia di mata Sang Pencipta.

IMG_1464.JPG
dokumentasi pribadi
IMG_1476.JPG
dokumentasi pribadi

Setelah menghabiskan satu jam di tempat itu, kami memutuskan untuk pulang. Setelahnya, beberapa kali Grace, Saya, bersama dengan Kepala Kantor Kami menjelajahi Teluk Buton, tapi kami tak pernah berhasil menemukan tempat ini lagi.

3 thoughts on “Suatu Kala di Teluk Buton

  1. Paling gampang dengan naik pesawat terbang via Batam. Menggunakan kapal bisa satu Minggu perjalanannya, karena dulu hanya ada kapal perintis. Entah kalau sekarang. Hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s