[Puisi] Mungkin Begitu

[Puisi] Mungkin Begitu

Mungkin manusia memang perlu sekarat. Bukan untuk mati, tetapi agar bisa mensyukuri hidup dengan hakiki. Continue reading “[Puisi] Mungkin Begitu”

Advertisements

[Puisi] – Samping

Aku melihat dari samping

Menatapmu berkejaran dengan kumbang dan kupu-kupu

Aku duduk bergeming

Memperhatikanmu merawat bunga dari benih hingga layu

Aku merasa terasing

Melihatmu berjalan sendirian tanpa ada rasa ragu

Aku berubah hening

Menantimu lelah bertualang. Menunggumu duduk manis menemaniku.

Sudikah kau menjadi tua dan kering

Bersamaku?

[Puisi] – Ada

Ada yang tak terucapkan.
Kalimat-kalimat rindu yang kembali tertelan. tertahan, tercekat di kerongkongan.

Ada yang tidak tersampaikan.
Perasaan-perasaan sayang yang kembali terpendam. tersimpan, terkubur dalam angan.

Ada yang tidak terwujudkan.
Harapan-harapan yang berujung keputusasaan. terpupuskan, terhalang oleh lautan.

Ada yang tidak terpikirkan.
hal-hal yang begitu berarti, tak bisa terganti. Karena ukiran takdir telah kita patri.

Karena diam itu tidak selamanya emas.

[Puisi] Dara

Dara, entah mengapa kini terasa hampa. Rasa yang dulu ada kini beranjak binasa, sirna. Bahkan saat kita tertawa bersama, berbagi asa dan prasangka, hatiku sudah tak ada disana. dia sedang berayun semu, menolak untuk membuka kembali lembaran kita terdahulu.

Untuk apa kau datang kembali? Kita berdua tahu kemana semua ini bermuara. kita seharusnya sudah paham, kita hanya mengulangi, ini semua sudah pernah terjadi. Dan akupun sudah tahu kemana pada akhirnya hatimu akan menepi. bukan padaku, tapi padanya.

Untuk apa kita ulangi semua? ini bagai bilur duri merobek ari. tak lain hanya rasa perih yang akan kita bagi. tak ada cinta, hanya sebatas luka lama yang akan kembali kau buka,