About Lv#1

Waw.. Release juga nih. Sejauh ini memang masih ngeblur ceritanya. Terus Banyak terminologi aneh yang pasti bikin pembaca mengerutkan keningnya..

Tapi tenang, nanti juga terbiasa :-)
Jgn tunggu Lv#2 karena saya gak tau kapan mau buat lagi.. :-P
Yang pasti, feedback is a must :-)

Posted from WordPress for Android

Advertisements

Levitate #1

2212 AD // 199 AL

Pip..pip..

Jendela kamar di sebuah apartemen membuka secara otomatis. Pukul 07.00 tepat. Seberkas cahaya matahari dengan samar menyinari kamar dengan platform yang mengarah ke timur itu.
Dari dalam apartemen itu terdengar bermacam-macam suara dan celotehan. Ada suara siaran hologram lokal yang membawakan berita, suara microwave yang berdengung, suara seorang wanita yang setengah marah-marah, suara sendok beradu dengan piring, dan suara telapak kaki seorang anak yang tengah berlari-lari. Permulaan hari yang benar-benar normal dan wajar, sama seperti hari-hari sebelumnya. Sangat kontras dengan insiden yang akan terjadi pada siang nanti.

Anak yang tadi terdengar berlari-lari, sekarang telah berhenti, dia terlihat sedang berpakaian. Anak ini hanyalah seorang anak biasa berumur 18 tahun. Dengan tinggi 174 cm, badan kurus dan rambut merah yang ditata sembarangan. Dia mengenakan sebuah jaket yang di bagian lengan sebelah kanannya tercetak sebuah tulisan kecil.

Limit Valsecon

Ya, itulah nama anak tersebut, Limit, dan ini adalah kisah tentangnya.

@

Limit selesai mengenakan sepatu yang baru saja dia beli tadi malam, setelah mengeset temperatur di sepatunya, dia bergegas memasang GPS di lengan kanannya. Senyum lebar tesungging dari bibirnya, hari ini spesial. Dia bisa merasakannya. Setelah yakin semua persiapan telah selesai, dia memasang googlenya, menarik nafas dalam-dalam, lalu berlari sekuat tenaga ke arah jendela kamarnya yang berada di lantai 80.

Dia melompat dari sana..

Dia meluncur..

Dia terbang..

@

Limit melaju di ketinggian standar 200 meter. Pagi itu matahari masih bersinar malu-malu, dan udara cukup dingin. Limit kembali mengeset temperatur jaketnya yang sudah sedikit rusak. Mencoba menaikannya agar tidak kedinginan. Di langit telah terlihat beberapa penerbang yang berlalu-lalang. Mereka mungkin adalah orang-orang yang bekerja di tempat yang cukup jauh.

Pip..pip..

GPS di lengan kanannya berbunyi. Dia meliriknya, ada dua titik berkedap-kedip disana,, memberikan tanda. Kedua titik itu melaju cukup kencang dari arah belakangnya. Limit menengok ke belakang, dia lalu berhenti berakselerasi dan melayang diam menunggu dua titik itu muncul di hadapannya. Tak lama kemudian muncul dua orang yang dia kenal. Reed dan Keene, pasangan kakak beradik yang satu sekolah dengannya.

“Pagi..” Reed menyapanya lebih dulu.
Limit hanya mengangguk sambil tersenyum. Dia lalu melirik ke bawah, memberikan sebuah tanda agar kedua temannya melihat sepatunya.
“Wooow.. Autotrack SX-100!” Keene yang lebih cepat menyadari sangat terkejut saat melihat sepatu yang dikenakan Limit.

Senyum Limit makin lebar.
“Yap.. dengan nitrogen booster. Dengan sepatu ini aku bisa menembus kecepatan 100 kilometer per jam.”
“Jangan bodoh, kau harus mengenakan aerosuit jika ingin berakselerasi secepat itu. Tubuhmu bisa hancur karena tekanan.” Reed menimpali sambil membetulkan google nya.
“Yah, aku kan hanya bilang bisa, bukan berarti aku mau.” Limit sedikit kesal dengan perkataan Reed. Ah, mungkin dia hanya iri..

Setelah bercakap-cakap sebentar, mereka lalu terbang ke arah sekolah. Membentuk formasi V terbalik dengan Reed sebagai pemimpin. Sangat wajar, mengingat Reed adalah penerbang terbaik diantara mereka bertiga.

@

Mereka bertiga terbang selama 15 menit ke arah tenggara. Tak lama kemudian Limit dan ketiga temannya menukik ke bawah, menuju Landing Pad pertama yang mereka lihat. Limit menapakan kakinya di Landing Pad 12. Sekitar 300 meter dari sekolah. Undang-Undang melarang adanya pendaratan di kawasan sekolah tanpa izin, demi alasan keamanan. Sangat sulit untuk mengatur para siswa jika mereka dapat dengan seenaknya keluar masuk kawasan sekolah dengan terbang begitu saja. Jadi setiap kawasan sekolah (dan kawasan vital lainnya) diberi kubah elektromagnetik yang dapat menghalangi orang tak diinginkan terbang masuk (atau terbang keluar) begitu saja. Hal tersebut menyebabkan setiap siswa terpaksa harus masuk ke sekolah dengan cara konvensional yang sama seperti beratus-ratus tahun yang lalu, yaitu melalui gerbang sekolah.

Limit tidak bermasalah dengan kebijakan itu. Dia senang berjalan kaki, walaupun dia tahu bahwa berjalan kaki sangat merepotkan dan tidak efisien, dia tetap menyukai perasaan saat kakinya menyentuh daratan, terutama tanah. ada sebuah sensasi unik setiap dia melangkahkan kakinya. Jadi dia sangat menikmati sesi singkat berjalan kaki ke sekolah.

Dalam lima waktu lima menit mereka bertiga telah sampai di gerbang sekolah. Sekolahnya adalah Sebuah gedung berlantai 10 berbentuk lingkaran sempurna, seperti Colosseum dengan sebuah lapangan indoor di bagian tengah lingkaran tersebut. Jika seseorang masuk ke gedung sekolah mereka melewati salah satu dari 12 gerbang yang ada, lalu berjalan terus menerus ke salah satu arah, maka dia akan kembali ke tempat awal dalam waktu satu jam. Ya, sekolahnya sangat besar.

Dia masuk ke sekolah setelah melewati DNA scanner yang terdapat di gerbang. Setelah itu Keene melambaikan tangan dan memisahkan diri dari mereka, gadis itu berada di Senior Level 1, berbeda dua tahun dari Limit dan Reed. Jadi dia bersekolah di bagian yang berbeda dengan mereka berdua.

Limit menghirup udara banyak-banyak saat dia masih berada diluar. Salah satu kesulitan dalam terbang adalah dia tidak boleh banyak bernafas, karena akan menghambat akselerasinya.

Hmm.. udara di pagi hari memang sangat menyegarkan.

@

Sekolah masih berlangsung normal seperti biasanya. Tidur di kelas Aritmatika, Juara dua balapan di kelas Levitasi, serta bolos di kelas Sejarah Dunia.

Limit mengecek lagi jam di GPS nya. Pukul 13.50, sudah waktunya dia pulang. Gerbang sekolah akan dibuka dalam 10 menit. Hari ini dia sengaja membolos jam pelajaran terakhir. Dia ingin pulang lebih awal karena Setengah jam lagi akan ada siaran langsung kejuaraan dunia Aerosuit di channel 35. Limit lalu memperhatikan siaran hologram di kafetaria, sambil sesekali menyendok makan siangnya.

Tak beberapa lama, matanya menangkap sebuah bayangan di langit. Awalnya tak begitu jelas, tapi lama kelamaan matanya tertuju pada sebuah pemandangan aneh di luar jendela, Limit tiba-tiba menjatuhkan sendoknya dan berlari ke arah jendela kafetaria, perbuatannya itu rupanya dilakukan juga oleh beberapa anak lain yang menyadarinya.

Limit memicingkan matanya, dengan wajah menempel di jendela. Apa itu? Limit melihat ada sesuatu yang jatuh dari langit, apakah sebuah shuttle menjatuhkan kargonya? dia tidak yakin..

“Tidak mungkin, Ya ampun!” seorang siswa perempuan berteriak.

Limit melihat ke samping, siswa perempuan yang tadi berteriak ternyata membawa sebuah elescope, sebuah teleskop digital. Gadis itu memperhatikan gambar yang telah diperbesar di layar GPSnya..
Limit segera mendekat dan ikut melihat, dia tidak mempercayai apa yang dilihatnya.. Limit menggelengkan kepalanya.

Ada tiga manusia yang terjatuh dari langit. Mereka terlihat seperti tiba-tiba kehilangan kemampuan terbangnya. Mereka mengerjap-ngerjap ketakutan pada saat terjatuh. Limit tidak berani melihat ketika ketiga manusia tersebut akhirnya hancur pada saat menyentuh daratan.

Semua mendadak histeris. Para siswa berteriak-teriak panik, para Guru yang kebetulan melihat terpana. mustahil…

Limit kembali duduk di mejanya, dia masih shock dengan apa yang baru saja dilihatnya. Otaknya memutar berbagai amcam skenario tentang bagaimana hal tersebut dapat terjadi. Kelelahan? Sakit? Pingsan? Keadaan cuaca ekstrim? Tak ada satupun alasan yang dia ketahui dapat menyebabkan seorang penerbang jatuh seperti itu.

Sekarang siaran hologram telah berubah menjadi berita darurat. Semua orang yang berada di ruangan itu hanya bisa terpaku saat melihat berita yang terjadi di luar sana. Lebih dari 50 orang tiba-tiba terjatuh tanpa sebab saat sedang terbang. Keadaan mereka semua sama dengan ketiga orang yang dilihatnya tadi. Semuanya berakhir kepada kematian.

Braaaaaaak!!

Seisi kafetaria dikagetkan dengan sebuah suara. Kaca plexi transparan diatas kafetaria bergetar. Limit melihat keatas, dan dia tidak bisa menahan perasaan mual dan ngeri yang muncul dari dalam dirinya.

Diatas kaca plexi itu terbaring sesosok mayat, penerbang yang jatuh. Mayatnya hangus dan berasap karena jatuh melewati pelindung elektromagnetik di sekolah.
Terdengar teriakan panik di seluruh kafetaria. Dan sirine tanda bahaya berbunyi keras.

Limit benar, hari ini memang akan menjadi hari yang sangat spesial.

@@@

tentang prolog levitate

hmm.. gimana ya, ini side project serial yang saya kerjakan disela-sela nulis SENSE!.. dulu sempet di post, terus saya hapus karena masih kasar..

sekarang saya coba perhalus :D

well kalo diliat dari tema, sama judul.. cerita ini berkisah tentang manusia-manusia yang bisa terbang. settingnya beberapa puluh tahun dari sekarang. :3

saya masih ngonsepin genrenya, of course it’s a Sci-Fi, tapi saya masih bingung mau sci-fi model apa, yang jelas beda sama SENSE! :D :D

well serial ini bakal di post secara irregular jadi jangan protes kalo jadwal terbitnya berantakan. hehehe

wassalam :D

Levitate -Prolog-

20.12.2012, Tibet

Malam itu angin berhembus sangat kencang, awan bergelung mengerikan di angkasa, halilintar menyambar kaki pegunungan dalam interval detik, membuat bintang-bintang enyah berlarian entah kemana. Semua orang di Lhasa menutup daun pintu dan jendela mereka rapat-rapat, serta memasang penahan dari balok kayu. Mereka mencoba berlindung dari badai salju paling dahsyat di tahun ini.

Tak jauh dari desa pusat desa Lhasa, terdapat sebuah kuil yang telah berusia ratusan tahun, kuil Ganden. suasana di Kuil Ganden tak jauh berbeda dari suasana di desa, sunyi.

Semua biksu berada di aula utama untuk berdoa. Ganden Tripa dengan khidmat memimpin para biksu lain melafalkan Kanon, malam ini istimewa, dia bisa merasakannya.

Seorang biksu muda membuka pintu dengan perlahan. menimbulkan suara yang sedikit melengking. Keringat dingin mengucur dari seluruh tubuhnya. biksu itu tergopoh-gopoh mendekati Ganden Tripa. Biksu tua itu mendelik marah, dan menyuruhnya pergi, biksu muda itu menggeleng tidak mau, wajahnya terlihat sangat cemas dan shock. Biksu muda itu kembali mendekatinya, dengan sedikit memaksa. Kali ini Ganden Tripa membiarkannya. Semua biksu yang ada di ruangan itu berhenti melafalkan Kanon, semua mata memandang ke arah biksu muda yang kini sedang berbisik ke telinga Ganden Tripa.

Seketika bola mata Ganden Tripa membesar, dan mulutnya menganga tidak percaya. Dia lalu segera bangkit dari posisi duduknya dan berjalan dengan tergesa keluar ruangan, biksu muda lalu setengah berlari mengikutinya. Para biksu yang lain saling memandang tidak mengerti, tapi mereka secara refleks ikut berdiri dan berjalan mengikuti Ganden Tripa.

Angin semakin kencang bertiup, terdengar suara-suara mengerikan saat angin melewati lereng-lereng pegunungan Himalaya, tanpa memperdulikan rasa dingin yang menusuk-nusuk kulitnya, Ganden Tripa berjalan dengan tergesa menuju ruang isolasi. Dia tidak mempercayai apa yang baru saja dikatakan oleh biksu muda tersebut. Ini semua tidak mungkin.. kenapa harus dia? Kenapa?.. para biksu yang mengikutinya kebingungan.

Ganden Tripa tiba di pintu ruang isolasi. Nafasnya memburu. Sejenak dia ragu untuk membuka pintu tersebut, khawatir tidak siap untuk melihat apa yang sedang terjadi di dalam sana. Biksu muda lalu mengambil inisiatif, dia membukakan pintu ruang isolasi. Ruangan itu gelap, tidak terlihat apapun dari luar.

Ganden Tripa dengan ragu masuk, diikuti oleh semua biksu yang ada disana. ruangan itu kosong, semua yang melihat hal tersebut bertanya-tanya kebingungan.

Biksu muda lalu menunjuk ke atas, saat semua memandang ke arah yang ditunjuk biksu muda itu, mereka semua terduduk takjub, tanpa bisa berkata apapun. Hari ini memang istimewa…

Apa yang mereka lihat sungguh diluar nalar, mereka semua melihat seorang anak kecil.. seorang biksu yang sedang duduk bersila, melayang tiga meter diatas lantai ruangan.

@@@