[SOURCE] – Prolog

ini adalah Sekuel dari serial sebelumnya, Sense. silahkan baca itu terlebih dahulu :)

PROLOG

                Agustus 2007, Munich

                Malam itu sangat dingin. Angin berembus kencang dari arah timur, membawa serta titik-titik air yang nyaris beku. Tanah dan jalanan kota Munich basah setelah diguyur hujan hampir seharian. Saat itu jalanan sedikit sepi, tak terlihat mobil yang biasanya berlalu lalang di sekitar jalanan Lothstraße. Hanya ada beberapa mobil yang diparkir di sisi jalan. Cuaca yang kurang bersahabat sepertinya membuat orang–orang lebih memilih untuk menghabiskan malam di dalam kehangatan rumahnya masing-masing.

Seorang pria berdiri kedinginan di bawah tugu Bennosäule pelataran gereja St.Benno.  Wajahnya tidak terlalu terlihat jelas karena terhalang oleh bayangan tugu setinggi 11,6 meter itu. Dia mengenakan mantel bulu berwarna cokelat yang sangat tebal, sementara lehernya dibalut oleh syal berwarna putih, cukup kontras memang. Kedua tangannya menggigil, dia nyaris membeku. Pria itu berulang kali melihat jam di tangan kanannya, sambil terus menggerutu.  Sudah Jam 10 malam.. dan suhu udara 13 derajat celsius. Perempuan sialan itu terlambat, sangat terlambat.

Pria itu berjalan mondar-mandir, gelisah. Dia khawatir ada sesuatu yang salah, banyak hal buruk terjadi belakangan ini, dan dia khawatir hal-hal buruk tersebut akan menganggu rencana-rencana besar yang telah mereka semua susun dengan rapi dan matang.

Dia berjalan dengan cepat ke arah jalan Ferdinand-Miller-Platz yang berada di sisi kanan gereja. Matanya menyapu jalanan, melihat ke kanan dan kiri, mencoba mencari-cari tanda keberadaan manusia lain. Kedua matanya menangkap bayangan dua orang yang terlihat berjalan di kejauhan, mendekatinya dari arah utara. Pria itu memicingkan matanya, mencoba untuk melihat apakah salah satunya adalah perempuan itu, tapi rasanya aneh sekali jika dia datang dengan berjalan kaki.

Rupanya bukan, kedua orang itu hanyalah sepasang muda-mudi yang mungkin sedang keluar untuk mencari makan malam, atau barangkali mereka sedang berjalan pulang setelah makan malam.. tak ada yang tahu.

Dia kembali menggerutu, seharusnya pada jam larut seperti ini dia sedang duduk santai di kediamannya di Frankfurt, menikmati Würstchen hangat di depan perapian kecilnya. Alih-alih berdiri sendirian seperti orang idiot di malam sedingin ini.

Tak lama kemudian tampak sepasar lampu depan terlihat berbelok dari jalan Lothstraße menuju ke jalan Ferdinand-Miller-Platz. Pria itu bergegas berjalan mendekati trotoar jalan, memandangi sorot lampu itu dengan tidak sabar.

Sebuah Bentley hitam tampak semakin mendekat, dia tak bisa melihat ke bagian dalam mobil itu karena kacanya yang sengaja dibuat gelap. Bentley itu mulai melambatkan lajunya, dan berhenti tepat di depannya. Pintu belakang mobil itu terbuka, pria itu menundukan kepalanya sedikit, mengintip penumpang yang baru saja membukakan pintu.

“Kau terlambat Applebee.”

Perempuan yang disebut Applebee mengangguk pelan, dia terlihat sangat menyesal.

“Ya, aku minta maaf, tapi bukan perkara mudah menyusup keluar dari tempat itu. Kau sendiri pasti tau kan?” dia berbicara dengan cepat.

Pria itu mengangkat bahu, wajahnya kini terlihat jelas dibawah sinar lampu yang menyala dari dalam mobil. Pria itu berusia sekitar 40 tahun, berkacamata bundar, dengan kumis dan jenggot tipis menghiasi wajahnya yang berbentuk persegi. Wajahnya terlihat bersemu merah karena udara dingin.

“Ya, barangkali.” Dia menjawab singkat.

“Masuklah, kau pasti kedinginan. Kita bicara di dalam.”

Pria itu selintas melirik kepada sopir yang berada di bangku depan, sopir itu balas meliriknya dari kaca spion.

Rupanya Applebee melihat hal tersebut.

“Jangan khawatir, Thomas bisa dipercaya.” Dia tersenyum.

Pria itu tak punya pilihan, dia mengangguk. Tanpa menunggu lebih lama dia masuk dan menutup pintu mobil. Sesaat kemudian Bentley itu kembali melaju, membawa kedua penumpang mobil berkendara di jalanan kota Munich, membelah malam.

Ō

                “Wine?” Applebee menyodorkan segelas minuman.

“Minumlah, kau tampak menggigil.”

“Ya, cuaca malam ini luar biasa. Hebat sekali kau memilih waktu pertemuan ini.” Pria itu berkata dengan nada sarkastik.

Applebee terkekeh, menampilkan lesung pipit yang manis di wajahnya.

“Kenapa kita tak berbicara di kantor saja? Harus ada alasan bagus atas semua ini.”

“Tentu saja John, dan aku yakin kamu sudah tahu alasannya.”

John memalingkan pandangannya, melihat ke arah jalanan yang mereka lalui dengan lambat.

“Ada kebocoran informasi, ya. Itu yang aku tahu. Semenjak Vincentius meninggal dalam kecelakaan bulan lalu, tampaknya ada beberapa orang kita yang ketakutan dan membocorkan rahasia organisasi kepada orang luar.”

“Beberapa? Kau yakin lebih dari satu?”

“Mungkin saja, tapi mungkin juga hanya satu, siapa yang tahu.”

“Cih, Vincentius bodoh, dia terlalu gegabah. Sudah sering kuingatkan dia agar tidak terlalu percaya pada orang-orang bayaran itu. Mereka hanya sekumpulan pengecut yang bergerak demi uang.”

“Dia punya alasan bagus Applebee.”

“Yeah.. tentu saja, alasan penghematan sumber daya manusia, klasik. Tapi tetap saja terlalu gegabah, lihat akibatnya sekarang, dia mati.”

“Dia mati ketika sedang bertugas.”

“Dia mati konyol Jonathan. Kau harus mengakuinya.”

“Kau tampak sangat kesal Applebee. Tapi yah, tentu saja.. kalian berdua kan sangat dekat.” John tersenyum sambil menghabiskan minuman di gelasnya.

“Lagi?” Applebee menawarkan, sambil menuangkan kembali Anggur merah di gelasnya.

“Tapi kematiannya tidak sia-sia. Bukankah hasil penelitiannya positif? Prototype serum yang dibawa oleh para peneliti kita dari sana sepertinya sudah siap untuk dicobakan.”

Applebee menyesap minuman dari dalam gelasnya.

“Ya, tapi sayangnya bukan itu yang ku khawatirkan.”

“Lalu apa?” John tampak keheranan.

“Inilah sebabnya aku memintamu untuk bertemu. Apa kau tau soal proyek Messiah?”

“Sedikit, kalian memulainya sebelum aku bergabung kan?”

“Apa yang kau tahu?”

“Jika aku tidak salah ingat Itu adalah rencana besar kalian berdua untuk membuat sang ‘penyelamat’ dunia lahir kembali. Ide luar biasa, menurutku, visioner.”

“Terima kasih. Lalu?”

“Tak ada lagi. Proyek itu gagal, semua calon messiah meninggal sebelum dapat bangkit.”

“Benarkah?” Applebee kembali memperlihatkan lesung pipitnya.

“Ya, sampai saat ini tidak ada tubuh yang dapat menerima kemampuan sebesar itu. Kau sendiri kan yang membuat laporannya?”

“Oh ya, aku dan Vincent memang membuat laporan itu, dan kau tahu bahwa dia menghentikan sementara pengembangan penelitiannya kan?”

“Bukannya permanen?”

“Sementara.”

“Oke, lalu?”

“Vincent berbohong.”

“Maksudmu?”

Applebee menarik nafas.

“Kami diam-diam masih mengembangkan proyek itu, selama bertahun-tahun. Hampir putus asa memang. Tapi saat dia diserahi tugas untuk pengembangan serum tersebut, kami menjadi lebih bersemangat. Dia merasa bahwa pengembangan serum itu dapat berdampak positif bagi proyek messiah, jadi dia membawa beberapa kontainer sampel ke kantor cabang kita di Asia.”

“Kalian masih menyimpan sampel kontainer itu selama bertahun-tahun? Bagaimana bisa?”

“Yah, itu sedikit rumit, akan kujelaskan nanti.“

“Kenapa kalian merahasiakannya?” John kembali bertanya, sambil mengerutkan keningnya.

“Untuk alasan yang sama dengan semua ini John, Dia sudah sejak dulu curiga tentang adanya kebocoran informasi, dan dia merasa harus melindungi proyek penting ini.”

“Kau seharusnya memberitahukan semua ini padaku Applebee.”

“Ya, aku memberitahumu sekarang bukan?”

“Sialan.” John tampak kesal. Dia mengerti alasan Applebee, lagipula dibandingan dengan yang lain, dia termasuk orang baru di organisasi. Tapi tetap saja semua ini membuatnya sedikit kesal, dia merasa tidak dipercaya. Dia memalingkan pandangannya ke depan, mobil bentley itu melewati Lori’s Restorante dan berbelok ke jalan Linprunstraße.

“Mau kemana kita? Ah sudahlah, lanjutkan dulu.”

Applebee mengangguk.

“Hanya berjalan-jalan disekitar sini. Kita lanjutkan. Beberapa waktu yang lalu aku memeriksa laporan polisi terkait dengan penyerbuan ke kantor kita di Indonesia. Dan aku menemukan hal menarik.”

Applebee mengeluarkan sebuah amplop dokumen, di bagian depan amplop itu tertulis dengan jelas tanda “SANGAT RAHASIA”. Dia kemudian memberikannya kepada John. Pria itu membetulkan letak kacamatanya, kemudian membuka-buka dokumen tersebut.

“Lihat halaman 20.. ah bukan, 21, di bagian sebelah kanan.” Applebee mengarahkan telunjuknya.

“Lihat, disini dituliskan bahwa mereka menemukan lima mayat anak-anak di laboratorium kita.”

“Lalu? Memangnya berapa jumlah sampel yang dia bawa?”

“Biarkan aku menyelesaikan penjelasanku dulu John, tolong.”

“Ups, maaf.” John mengangkat bahu, dia lupa kalau Applebee sangat benci disela, dan hari ini dia sudah menyelanya beberapa kali.

“Vincent memang membawa lima sampel kesana. Tapi, didalam catatan rumah sakit, buka halaman 25 John. Ada sebuah catatan yang mengatakan bahwa autopsi telah dilakukan terhadap keempat mayat anak kecil.”

“Disini dikatakan lima mayat Applebee.”

“Itulah anehnya, ada dua laporan yang dikeluarkan. Yang sedang kau pegang adalah laporan kedua. Dalam laporan pertama yang dikeluarkan oleh pihak rumah sakit setengah jam sebelumnya, dituliskan ada empat mayat. Ini, lihat sendiri.”

“Mungkin mereka salah tulis.”

“Itu yang pertama kali terlintas dalam pikiranku, tapi instingku mengatakan ada yang salah. Jadi untuk berjaga-jaga, aku sengaja mengecek semua hal yang berkaitan dengan hal ini. Aku bahkan menghubungi seseorang disana untuk mengirimkan foto kelima mayat yang sudah diautopsi. Tapi dia bilang tidak ada foto yang diambil.”

“Bagaimana dengan media massa? Mereka pasti mengumumkannya untuk mencari keluarga anak-anak itu.”

“Ya, ada pemberitaannya, dikatakan bahwa kelima anak itu adalah korban international trafficking. Hanya ada empat foto.”

“Oke, jadi memang ada satu mayat yang hilang, lalu?”

“Aku mengecek hal-hal yang lain, kau tau. Untuk menghabiskan rasa penasaran.”

“Golongan darah tipe A, eh?” John mencibir.

“Sialan, jangan meledekku. Dalam electricity log laboratorium, aku berhasil menemukan kejanggalan lain.”

Applebee kembali mengeluarkan sebuah dokumen lain, dan menyerahkannya pada John.

“Lihat garis yang sudah kuberi tanda.”

John melihat kolom yang diberi garis itu selama beberapa detik, dia kemudian terkesiap, sekarang semuanya tampak masuk akal.

“Astaga.. benarkah ini?”

“Ya, ada penurunan drastis untuk penggunaan listrik dalam modul kontainer.”

“Salah satu kontainer dimatikan, menjelang tengah malam.”

“Jika dikaitkan dengan ketidak cocokan laporan autopsi tadi, ini bisa berarti…”

“Kemungkinan besar ada sampil yang berhasil bangkit.” Applebee meneruskan.

“Apa.. kau tau sampel mana.” John mulai merasa bersemangat. Dia tersenyum.

Applebee mengangguk.

“Kontainer satu, milik seorang gadis bernama Eve.”

Ō

                Mei 2008, Bandara Internasional Soekarno-Hatta

                Seorang Pria keluar dari dalam Terminal 2E.  Perawakannya tinggi dan atletis, rambutnya pirang, dipotong pendek dengan sangat stylish, wajahnya yang tampan senantiasa menyunggingkan senyum. Moodnya sedang sangat baik hari ini.

Dia berdiri mematung selama beberapa saat, mengagumi keadaan di sekelilingnya. Aksen tradisional dengan balutan warna cokelat sangat terasa di terminal ini, bangunan yang di desain oleh Paul Andreau ini ternyata cukup megah untuk ukuran sebuah negara berkembang, dan cukup ramai. Orang-orang dari berbagai etnis dan warna kulit berlalu-lalang, mereka terlihat berjalan dengan terburu-buru.

Dia sebaliknya berjalan dengan santai, tanpa beban. Toh tujuannya kali ini adalah untuk berlibur, dan bertemu kembali dengan seorang wanita yang sudah lama tidak dia temui.

Dia duduk di sebuah bangku, kemudian memejamkan kedua bola matanya. Telinganya menangkap suara-suara janggal di terminal itu, langkah kaki, roda koper, orang mengobrol, nada dering telefon, makian, erangan, umpatan, semua itu dalam berbagai bahasa. Dengan penuh konsentrasi dia memilah-milah suara itu, mengidentifikasi dan mengelompokan setiap kosakata yang terdengar.

Pria itu sebenarnya telah selesai membaca kamus Jerman-Indonesia dalam perjalanannya kemari. Dia telah menghafal setiap kosakata yang ada di setiap halaman kamus itu, mungkin lebih dari satu juta kata yang digunakan dalam percakapan sehari-hari. Sayangnya dia belum tahu cara penggunaan masing-masing kata tersebut. Jadi dia memutuskan untuk diam dulu di tempat ini, menyerap sebanyak mungkin informasi tentang gramatikal bahasa indonesia yang biasa digunakan.

Dia sedikit termenung, banyak kosakata baru yang tidak dia temukan di kamus, dan cara mereka berbicara pun berbeda dengan teori yang dia pelajari, jika diperhatikan sepertinya bahasa nasional negara ini termasuk ke dalam bahasa sintetis, berbeda sekali dengan bahasa Prancis dan Spanyol, struktur kalimatnya sangat fleksibel.. bahkan terlalu fleksibel.

Dia membuka matanya, kemudian melirik jam di tangannya. Lima belas menit, dan dia sudah mengumpulkan cukup banyak informasi tentang dasar-dasar percakapan umum dalam bahasa indonesia.

Pria itu berdiri, menenteng ranselnya dengan sebelah tangan. Berjalan sambil melihat-lihat kompleks pertokoan yang berada disana. Pandangannya tertuju pada sebuah toko. Setelah beberapa detik menimang-nimang, dia memutuskan untuk masuk. Seorang gadis yang saat itu sedang menjaga kasir tampak menjadi salah tingkah ketika melihatnya masuk. Dia dengan gugup mempersilahkannya masuk. Yah, gadis mana yang tidak? Pria itu memang sangat tampan, bahkan untuk standar orang bule.

Dia melihat-lihat bagian dalam toko selama beberapa menit, setelah puas dia lalu menghampiri gadis yang berdiri di kasir. Percobaan pertama.

“Selamat siang, apa kamu punya peta?” dia bertanya sambil menyunggingkan senyum simetris yang amat manis. Kedua tangannya bergerak dan menggambarkan sebuah kotak di udara

Gadis itu mengangguk malu-malu.

“Selamat siang, tentu saja, kota mana pak?”

“Band-ang?” dia tampak tidak yakin dengan cara pengucapannya sendiri.

“Bandung?” gadis itu tampak tersenyum geli.

“Ja! – Ya!” dia berseru senang, menggunakan bahasa Jerman

Gadis itu kemudian mengambil sebuah peta kota Bandung yang terpasang di display counternya, kemudian memberikannya kepada sang pria.

“Sudah sering ke Indonesia?” gadis itu bertanya.

“Belum, baru kali ini.” Pria itu menjawab.

“Oya? Tapi bahasa indonesia anda bagus sekali.”

“Makasih, hmm, boleh saya lihat sebentaar?” dia kembali bertanya.

Gadis itu kembali mengangguk.

“Danke schön. – terima kasih.” Secara tidak sadar dia kembali berbicara dengan menggunakan bahasa Jerman.

Pria itu kemudian mengeluarkan peta itu dari dalam plastik pembungkusnya, lalu membuka peta itu secara penuh, ukurannya besar, mungkin sekitar 1×1 meter. Dengan penuh konsentrasi dia mengamati peta itu dari ujung kiri atas ke ujung kanan bawah, selama sekitar lima detik. Dia kemudian melipatnya kembali, lalu memberikannya kepada sang gadis.

“Makasih.” Dia memberikan senyum yang sangat manis kepada sang gadis, membuatnya tersipu malu. Setelah itu dia beranjak keluar dari toko.

Gadis itu tersadar, setengah berteriak dia kembali memanggil pria itu.

“Mas, eh pak.. anda gak jadi beli?”

Pria itu membalikan kepala.

“Tidak usah, saya, sudah ingat semuanya di kepala.” Katanya sambil menunjuk keningnya. Dia kemudian melambaikan tangan dan beranjak pergi.

Gadis itu mengerutkan kening, mengingat peta sebuah kota dalam waktu beberapa detik? Dia pasti bercanda. Dengan malas dan sebal gadis itu kembali memasukan kembali peta itu ke dalam plastiknya, dan menyimpannya di dalam display. Orang bule memang aneh-aneh..

Pria itu kembali berjalan, kali ini ke arah luar. dia terkekeh, gadis di kasir itu pasti mengira dia bercanda, hampir semua orang yang baru pertama kali mengetahuinya berpendapat seperti itu. Tetapi tidak, dia memang sudah mengingatnya, setiap belokan, setiap detail jalan, letak setiap rumah makan dan hotel, taman, dan setiap nama jalannya. Dia hafal semuanya diluar kepala sesaat setelah melihatnya.

Di dekat pintu keluar dia mencari-cari orang yang seharusnya menjemputnya. Dia melihat ke sekeliling, mencari-cari papan namanya diantara kerumuman orang yang memegang papan nama.  Ah itu dia.. dia menemukannya, seorang pria dengan setelan jas hitam sedang memegang papan namanya.

Mr. Mark Eisler

Dia mendekati pria itu, mereka kemudian bersalaman.

“Welcome to Indonesia, Mr. Eisler.” Katanya ramah.

Percobaan kedua..

“Panggil saya Mark saja.” Dia menjawab dengan yakin.

“Bisa bahasa Indonesia?” pria itu tersenyum. “Saya Toni.”

“Sedikit, Helo Tony, selamat siang.” Dia menjawab sambil tersenyum.

“Bravo.” Toni terlihat sangat senang. “Mereka bilang anda tidak bisa bahasa Indonesia.”

Mark hanya tersenyum.

“Oke, kita lanjutkan nanti di mobil saja. Lets go.”

“Mobil? Tidak bisa dengan berjalan?”

Toni terdiam sebentar, dia tidak tahu itu pertanyaan main-main atau serius.

“Jalan kaki? Ke Bandung? Hampir 200 kilometer jaraknya.”

Mark mengangguk, dia tak punya pilihan lain. Dia kemudian mengikuti pria itu keluar. Mark mengernyit, matahari menyambutnya dengan kasar, dia memincingkan matanya, lalu berjalan dengan sedikit menundukan kepala karena silau.

Toni mematikan alarm mobil, mereka berdua kemudian masuk ke dalam sebuah mobil Nissan Terano berwarna silver.

Tak lama berselang mobil itu sudah melaju kencang diatas jalan tol. Mark melihat ke arah jalanan yang terik. Cuaca disini terasa sangat panas dan lembab. Dia mengulurkan tangannya untuk meraih tombol AC di dashboard mobil, sambil membuka jaketnya.

“Sudah sering kesini?”

“Apa?”

“Ke Indonesia, sudah sering?”

Dia menggeleng

“Pertama kali.”

“Really?”

Mark mengangguk.

Setelah itu Toni mulai berbicara, bercerita tentang banyak hal, Mark mendengarkan, sambil sesekali menjawab. Dia tidak terlalu antusias dengan percakapan ini. Pikirannya sedang berada di tempat lain sekarang.

Pandangannya kembali tertuju pada jalanan. Ke garis putih yang membelah jalanan pada jarak yang sama, pada beton pembatas jalan, pada penanda jarak, dia memperhatikan semuanya. Mark bahkan memperhatikan setiap mobil yang melintas di sekitarnya, dan dengan iseng mengingat setiap plat nomor mobil yang bisa dia lihat, sekaligus dengan jenis dan warna mobilnya.

Ya, dia sedang dalam mood yang bagus.

Akhirnya mereka beruda akan bertemu kembali, setelah sekian lama.

Mark mengeluarkan dompet dari dalam saku celananya, dia melihat kembali foto yang terpasang di sana, foto yang selama ini mungkin sudah ribuan kali dia lihat, dan sudah mulai kusam. Tentu saja dia bisa membayangkan setiap detail gambar di foto itu dengan sempurna tanpa melihatnya, tapi entah kenapa ada sensasi lain ketika dia melihat langsung foto itu. Dengan perlahan dia mengusap-usap bagian rambut hitam seorang gadis di foto itu, sambil terus tersenyum.

“Foto siapa itu?” Toni bertanya sambil melirik ke arah dompet Mark.

Mark kemudian memperlihatkan foto itu kepada Toni

“Ini foto Vetra?”

“Ya” Mark tersenyum.

ŌŌŌ

Advertisements